![]() |
| Alim saat berada di Bukittinggi Sumatra Barat |
Sudah menjadi keinginan setiap anak ingin membahagiakan orang
tuanya. Bagaimanapun caranya, dia akan berusaha sekuat tenaga membuat ayah dan
ibu menikmati bahagian dunia dari hasil jerih payah si anak. Sebaliknya, kadang
kala demi masa depan anaknya, tidak ada orang tua yang tidak mau berkorban
apapun.
Aresik Jawa Timur. Mursyida adalah kakak
perempuan yang berjarak tiga tahun diatasnya, dan Aan nama alim adalah anak kedua dari tiga bersaudara, berasal dari keluarga
kecil yang sederhana di sudut daerah Gdik laki-lakinya. Untuk
menghidupi ketiga anaknya, bapak Rosyadin dan ibuk Sayuti sebagai orang tua
harus bekerja keras.
Mursyida terpaksa menjalani hidup di kota yang berbeda dengan orang
tua dan adik-adiknya demi mengikuti suaminya. Alim berprofesi sebagai guru
disalah satu sekolah SMP Muhammadiyah yang tidak jauh dari rumahnya, sedangkan
Aan masih duduk dibangku sekolah SMA. Tiap harinya, kerap sekali rumah keluarga
kecil itu sepi dari penghuninya, karena orang tua dan anak-anaknya menjalankan
aktifitasnya sehari-hari.
Kesibukan yang lakoni pak Rosyadin sebagai sopir mobil barang
disalah satu toko besar disekitar rumahnya. Dia bertugas mengantar-jemput
barang yang keluar-masuk di toko itu. Sedangkan istrinya di rumah menerima jasa
strika pakaian dari tetangga. Dari hasil pekerjaan itulah, pasangan suami istri
itu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang guna biaya kehidupan tiap hari dan
biaya pendidikan anak-anaknya.
![]() |
| Isma dan Alim berseragamkan batik IMM |
Suatu sore, pemuda sarjana pendidikan itu mengenang masa-masa
kecilnya. Terlintas dipelupuk matanya sosok ibunya menyetrika baju tetangga
beberapa tahun silam. Jika sore mulai datang, beberapa orang tetangga mulai
berdatangan mengantarkan jemurannya untuk distrika. Hasil yang didapat cukup
untuk pembeli beras.
Selain sosok ibunya, tubuh sang ayah yang rentan bekerja siang dan
malam juga mengharungi ingatannya. Berangkat subuh pulang larut malam dengan
membawa makanan untuk istri dan anak-anaknya. Rosyadin melihat wajah cerah pada
bibir istri dan anaknya jika dia membawa makanan. Jika sosok yang selalu mondar
mandir di kota Gresik itu pulang dengan tangan kosong, maka rasa kasihan merayap
dalam hatinya melihat wajah-wajah yang merungut[1].
Tanpa disadari, setetes demi setetes air mata Alim berjatuhan
membasahi pipihnya. Dia bangun dari renungannya itu saat ibunya memangil “Lim,
wis azan maghrib lee, ndang wudhu sholat jama’ah neng omah wae yo”[2]
ajak wanita separuh baya dari dalam rumah sembari mengambil mukenah dan
sajadah. Alim yang duduk dibelakang dapur itupun terkejut dan mengelap
airmatanya. “nggeh buk, aku tak wudhu sek”[3]
jawab Alim bergegas ke kamar mandi. Aan juga terlihat bersiap-siap dengan
seragam sholatnya.
Ibu dan dua anaknya itu terlihat rukun. Ketiganya melakukan sholat
maghrib berjamaah yang dipimpin Alim. Suara lantunan bacaan ayat Al-Qur’an Alim
sangat indah dan merdu, satu demi satu gerakan sholat mereka lewati. Mencium
tangan ibunya setiap selesai sholat adalah hal yang tak terlupakan oleh Alim
dan Aan.
Berzikir, berdo’a dan membaca Al-Qur’an menjadi rutinitas Alim dan
Aan sembari menunggu waktu sholat Isya. Sedangkan ibu mempersiapkan makan malam
sembari merapikan strikaan pakaian tetangga. Dalam keasyikan dengan
kesibukannya masing-masing, tiba-tiba “buk, bapak kok urung muleh? Nang ndi
yo bu?”[4]
Aan bertanya kepada ibuknya yang sedang menghidangkan makanan. “ndak tau
lee,[5]
biasanya juga bapak pulang selesai sholat isya. Selesai sholat maghrib bapakmu
harus bertemu dengan bosnya” jawab buk Sayuti.
Tak lama saat setelah itu, terdengar ketokan pintu, “assalamu’alaikum”
suara dari luar pintu depan. Yang di dalam rumah spontan menjawab “Wa’alaikumsalam”,
Aan terlihat bergegas membukakan pintu. Terlihat seorang lelaki separuh baya,
dengan wajah lesu seolah capek habis bekerja, berpakaian celan hitam, kemeja
kotak-kotakdan topi bunder dikepalanya. Tanpa pikir panjang, Aan terlihat
menggapai tangan lelaki itu dan menciumnya seraya berkata “bapak sudah
pulang.”
Alim bangkit dari tempat duduknya dan menghentikan aktifitasnya
sementara. Dia melangkah menuju bapaknya, menggapai dan mencium tangan
bapaknya. Hal yang sama dilakukan oleh Sayuti sembari menyambut kantong kresek
tentengan bapak sembari berkata “alhamdulillah bapak wis teko, lage wae
ditakok karo arek-arek”.[6]
Perasaan senang dan bahagia selalu menyelimuti perasaan lelaki
paruh baya itu saat melihat istri dan kedua putra berkumpul. Apa lagi melihat
nuansa yang sesuai dan cocok dengan suasana hatinya, yaitu Aan yang tengah
membaca Al-Qur’an, Alim yang terlihat mempersipakan materi buat mengajar di
sekolah dan istrinya yang dikelilingi menu-menu makan malam.
Suasana di rumah itu berlanjut menikmati makan malam bersama. Pak
Rosyadin sebagai kepala rumah tangga selalu membiasakan anak-anak untuk menjaga
kebersamaan dalam rumah tangga. Kadang kala, Rosyadin menceramahi istri dan
anaknya, berdalilkan ayat Al-Qur’an demi keharmonisan keluarganya.
Ditengah keasyikan menikmati masakan ibuk Sayuti, tiba-tiba pak
Rosyadin berucap “Lim, bagaimana pekerjaanmu di sekolah?”. Alim yang
tengah asyik menyendok sayuran itu menjawab “Alhamdulillah pak, lancar dan
sesuai keinginan,, insyaAllah tahun ajaran depan, saya ditetapkan sebagai guru
kelas VII pak”. Mendengarkan jawaban itu, senang tak terkira terlihat dari
wajah buk Sayuti dan Pak Rosyadin. Sembari berkata “Alhamdulillah kalau
begitu. Kamu rajin-rajinlah bekerja, nikmatilah apa yang telah kamu raih. Kamu
menjadi sarjana bukanlah karena kami yang membiayai, tetapi kepintaran dan
kecerdikanmu sendiri yang membiayai kuliahmu melalui beasiswa itu. Jika
semuanya dibebankan kepada kami, mungkin kami tidak sanggup menguliahkanmu.”
Mendengarkan ucapan bapaknya itu, sejenak Alim terhenti dari
suapannya, “bapak, semuanya tidak terlepas dari sentuhan bapak dan ibu.
Tanpa restu dan izin dari bapak dan ibu, belum tentu juga saya bisa seperti
sekarang ini.” Ucap Alim dimeja bundar itu. Dia terlihat meyakinkan orang
tuanya itu. Percakapan hangat itu terus berlalu hingga waktu makan malam
bersama selesai. Alim dan Aan kembali keruangan belajarnya. bapak terlihat
bersantai melepas lelah disebelah kedua anaknya itu. Ibu Sayuti kembali
disibukkan merapikan meja makannya.
Sembari menunggu ngantuk, bapak terlihat ingin berbicara serius
dengan Alim anaknya itu. “Lim, umurmu sekarang sudah 25tahun, Sudah sarjana
dan alhamdulillah sudah bekerja. Kapan rencanamu untuk
menyempurnakan imanmu? Tidakkah terbesit niat dihatimu nak?” ucap bapak
dengan suara pelan dan jelas. Mendengarkan ucapan itu, Alimtermenung sejenak
sembari tetap melakukan pekerjaannya mempersiapkan materi. Ibu Sayuti yang
telah rampung membersihkan meja makan, jugabergabung dalam percakapan sambil
membawa jemuran tetangga yang akan disetrika.
“iya lee, sebenarnya jauh-jauh hari ibu juga berpikir seperti itu” tiba-tiba menyambung perkataan suaminya. Mendengarkan ucapan kedua
orang tua, Alim mencoba memberikan penjelasan kepada mereka. “pak, buk.
Bukannya Alim tidak berniat, setiap lelaki pasti memiliki hasrat untuk
melansungkan hal itu, tapi sepertinya waktu belum berpihak kepada diri Alim”
ucap Alim sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran buku panduan ngajar
ditangannya.
Mendengarkan keterangan putra keduanya itu, bapak heran dan tidak
paham apa yang dimaksudnya. “tidak berpihak bagaimana lee? Kamu tidak
menemukan calon ibu dari anak-anakmu nanti?” tanpa pikir panjang ibuk
Sayuti juga melantunkan rasa penasarannya, “coba jelaskan kepada kami, apa
yang menjadi penghalangmu lee, kalau kakakmu Mursyida sudah hidup bersama
suaminya di Surabaya. Bagaimana denganmu?” kata sang ibu sambil menyetrika
pakaian.
Merasa didesak, Alim menghentikan aktifitasnya sejenak dan mencoba
menjelaskan kepada orang tuanya “pak, buk.
Satu ibu dan satu ayah mampu mengasuh dan memenuhi kehendak tiga anaknya, tapi tiga anak belum tentu bisa
mengasuh dan memenuhi kehendak satu ayah dan satu ibu. Kak Mursyida sejak
menikah sudah sibuk dengan keluarganya tanpa ada kabar apapun hingga sekarang”.
Mendengarkan penjelasan itu, kerut kening pak Rosyadin semakin menjadi.
“Alim ingin melihat ibu dan bapak bahagia dulu, tidak lagi bekerja
seperti sekarang ini, Alim ingin melanjutkan studi Aan hingga ke dunia kampus, Alim
juga ingin memperbaiki rumah kita biar kelihatan lebih baik” lanjut Alim sembari melirik Aan yang sedang mengerjakan tugasnya.
Mendengarkan keterangan itu, entah kenapa airmata ibuk jatuh setitik demi
setitik.
Tiba-tiba bapak menyilah penjelasan Alim, “Lim, jangan kamu
ikut-ikutan memikirkan bagaimana rumah, sekolah adikmu, bagaimana kebahagiaan kami.
Itu bukan urusan kamu lee. Bahagia itu kesederhanaan nak, jika dengan keadaan
seperti ini, bapak dan ibu merasa bahagia berarti tidak masalah. Kecuali, jika
bapak dan ibu mengeluh padamu. Semua uang yang kamu dapatkan, simpan dan tabung
saja untuk kebutuhanmu. Kami tidak akan meminta uangmu itu lee”kata bapak
tampak meyakinkan anaknya itu.
Mendengarkan kata-kata bapaknya itu, perasaan Alim berubah dratis.
Suhu badannya lansung mendingin. Dia merasakan aura ketulusan yang mulia dan
sinar cahaya kasih sayang yang ikhlas dari sosok orang tua. Betapa besarnya
harapan orang tua terhadap dirinya. Hatinya menangis namun tak terungkapkan. Mulutnya
serasa terkunci, padahal ingin mengungkapkan berbagai kata dan kalimat. Aan
yang berada disebelahnya itu, memandang sayup kepada kakaknya. Sesaat setelah
mengucapkan kata itu, si bapak meninggalkan pertemuan kecil itu sembari berkata
“ya sudah, bapak mau istirahat” kata bapak sembari bangkit dari tempat
duduk menuju kamar tidurnya.
Hingga ibuk Sayuti selesai menyetrika, Alim masih terdiam seribu
bahasa. Kerut keningnya semakin menjadi, pandangan matanya yang gelap dan
bawaannya yang tak bersemangat. Sang Ibuk juga tidak banyak mengeluarkan
kata-kata setelah ucapan suaminya. Hanya memberi pesan “coba direnungkan apa
kata-kata bapakmu tadi, siapa tau ada baiknya bagimu dan masa depanmu” kata
si ibuk sambil membereskan kerjaannya dan meninggalkan ruangan itu.
Kata-kata orang tua Alim itu sangat menggoncang perasaannya, malam
dilaluinya dengan rasa gelisah. Goncangan perasaannya melebihi sebuah granat
yang mengoncang-gancingkan bumi. Hingga larut malam, Alim tak mampu bekerja
sama dengan kedua mataya menuju mimpi indah. Hatinya dirasuti kegelisahan, kakinya
selalu mengajaknya mondar-mandir di kamar, tubuhnya seakan memerintahkan mutar-mutar
di kasur dengan kesendiriannya, kadang keluar berdiri dipintu rumah sambil
melihat langit yang berbintang, menyaksikan cahaya lampu di jalan.
Alim selalu membayangkan keberhasilan adiknya kelak. Alim selalu
berusaha melihat kesuksesan adiknya melebihi apa yang sudah diraihnya. Sebilas
teringat wajah kakaknya Mursyida, Alim mulai kecewa karena semenjak menikah
tidak pernah memberikan kabar kepada orang tua.
***
Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu. Pak Rosyadin dan Ibu
Sayuti tetap melaksanakan aktifitas hariannya. Begitu juga dengan Alim dan Aan,
setiap pagi keluar rumah secara bersamaan. Mereka terpisah karena arah sekolah
yang berbeda. Kadang kala setiap bertemu, pak Rosyadin kembali mengungkit
permasalahan pernikahan Alim, namun Alim belum memberikan jawaban pasti kepada
orang tuanya yang memiliki harapan penuh itu.
Saking perhatian dengan putranya, orang tua itu bahkan tidak pernah
meminta uang gaji bulanan Alim untuk kebutuhan hidup harian. Saat Alim mencoba
memberi, mereka menolak dengan baik-baik. Bapak tidak pernah meminta dan
menerima uang belanja begitu juga dengan ibu. Tidak hanya itu, bapak dan ibu
juga melarang Aan untuk menerima uang dari Alim.
Jika Alim membawa buah tangan sepulang dari sekolah, maka akan
diselidiki dari mana uang pembeli buah tangan tersebut. Jika buah tangan itu
dibeli dari uang gaji, maka ibu selalu mengingatkan “jangan dipergunakan
uang gajimu untuk hal-hal seperti ini Lim, kalau ada kebutuhan biar ibu dan
bapak yang membelinya. Kebutuhanmu dikemudian hari lebih banyak.”
Melihat suasana seperti itu, Alim sangat merasakan ketulusan orang tua
yang rela mengorbanakan segalanya demi masa depannya. Itulah hal yang sering
membuat Alim termenung bertemankan air mata. Alim selalu berusaha agar orang
tuanya tidak mengetahui disetiap tetesan air matanya. Alim hanya berdo’a
disetiap sujudnya untuk kebahagiaan dan kemudahan rezeki orang tuanya.
“Ya
Allah.. Engkau yang Maha Menentukan, Engkau yang Maha Bijaksana. Sebaik-baik
keputusan adalah keputusan Engkau. Tidak ada anak yang ingin melihat orang
tuanya susah, tapi hamba tidak punya cela untuk menyisipkan sedikit bantuan
bagi mereka. Hati mereka begitu mulia, hamba tidak sanggup mengharungi
kenyataan seperti ini, berikan hamba bimbinganMu, apa yang seharusnya hamba
lakukan.”
“Ya
Allah.. Engkau yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, tidak ada kekuatan dan kekuasaan
di atas kekuatan dan kekuasaan Engkau. Memohon hamba kepada Engkau, berikanlah
mereka kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang Engkau tetapkan ini. Kami
yakin, semua berlaku atas izin Engkau, tanpa kekuasaan dan kekuatan yang Engkau
anugrahkan, mereka tidak akan sanggup untuk mencari rizki di jalanMu.”
“Ya
Allah.. Engkau yang Maha Menjauhkan segala yang dekat, Engkau yang berkuasa
mendekatkan segala yang berkejauhan. Engkau yang menyatukan segala yang
terpisah, Engkau yang mempertemukan rasa yang tak saling menyapa, Engkau yang
memisahkan segala yang menyatu. Jika menikah adalah salah satu jalan yang harus
hamba tempuh untuk membuat mereka senang dan bahagia, maka pertemukanlah hamba
dengan orang yang telah Engkau tetapkan. Jika kami belum saling mengetahui,
buatlah hamba mengenalnya, dan dia mengenalku. Berkati rasa yang kami miliki.”
“Aminn,, ya Rabbal’alamiin.”
Begitulah ratapan Alim setiap menengadahkan tangan diakhir shalatnya.
Air mata bercucuran membasahi pipih hingga berjatuhan menetesi sejadah. Di
sekolah, Alim terlihat bermata sembab. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari
guru-guru lainnya.
Suatu hari, ibu Sayuti jatuh sakit karena terlalu lelah menjalan
pekerjaan. Pak Rosyadin sangat panik mencari dana guna membiayai pengobatan
istrinya. Saat kondisi itu Alim berkata “pak, pakai uang simpanan Alim saja
pak, insyaAllah cukup untuk membeli obat ibu” kata Alim tanpa sepengetahuan
ibuknya. Pak Rosyadin tetap tidak ingin menggunakan uang tersebut, “nak,
uang itu disimpan saja untuk kebutuhan masa depanmu. Untuk persiapan masa
depanmu nanti. Kalau untuk membeli obat ini bapak bisa mengusahakan melalui
jalan lain.”Kata pak Rosyadin sembari memegang bahu putranya.
Hati Alim terenyuh mendengarkan ucapan bapaknya itu, Alim tidak
bisa berkata apapun. Alim hanya mampu mengalirkan air mata, seperti anak kecil
cengeng yang tak terpenuhi kehendaknya. Alim tidak pernah membantah keinginan
orang tuanya, hal itulah yang diajarkan orang tunya hingga terbentuklah
kepribadian patuh dan menghargai dalam dirinya.
Beberapa waktu kemudian, Alim diutus pihak sekolah menghadiri acara
lokakarya guru mata pelajaran yang berlansung di Gedung Dakwah Muhammadiyah
Menteng Jakarta Pusat.Sebagai guru di sekolah Muhammadiyah sekaligus kader
Muhammadiyah Jawa Timur, dia merasa itu adalah sebuah penghargaan tersendiri
baginya. Alim memutuskanakan berangkat dengan beberapa orang guru lainnya.
Malam hari sebelum keberangkatan, Alim berpamitan kepada kedua
orang tuanya. Dengan harapan mendapat izin, Alim mendekati ibunya yang masih sakit.
Alim berkata apa adanya. Pak Rosyadin juga mendengarkan izin tersebut secara
lansung. “buk, Saya diutus pihak sekolah menghadiri acara lokakarya guru
mata pelajaran di Jakarta. Jika ibuk mengizinkan Alim, maka Alim akan putuskan
akan berangkat, tepi jika ibuk memberikan lampu merah, maka Alim akan menolak
hal ini kepada pihak sekolah agar dicarikan penggantinya” kata Alim yang
duduk disebelah ibuk Sayuti.
Menyadari bahwa itu adalah tugas anaknya, ibuk Sayuti terlihat
tidak bisa menghalanginya. Dengan nada pelan, ibuk Sayuti berkata “lampu
merah ibu tidak akan pernah untuk kemajuan aktifitasmu nak, selagi ibu mampu
ibu akan menghidupkan lampu hijau untukmu agar kamu menggapai apa yang kau
inginkan. mangkat karo sopo lee?”[7],
seperti khawatir akan keselamatan Alim. “Terima kasih buk, air susu jadi
bukti, air mata jadi saksi, disetiap langkah kakiku Alim ini ada iringan do’a
ibu. Alim bersama dua orang guru lainnya buk” jawab Alim yang mencoba
menghilangkan keraguan ibuknya atas keselamatannya.
“Hati-hati diperjalanan Lim, jaga diri baik-baik. Kamu harus laksanakan
tugas itu dengan baik dan penuh rasa amanah” tiba-tiba bapaknya memberikan nasehat. “mas, pergi berapa
hari?” tanya Aan dengan penuh rasa ingin tau. Mendengarkan pertanyaan itu,
Alim mendekati Aan yang berada di meja makan sambil berkata “Cuma tiga hari
saja, nanti kamu jaga ibu di rumah ya, saat bapak berangkat bekerja kamu di
rumah dulu saja. Kalau kesehatan ibu sudah pulih sempurna, baru kamu masuk
sekolah lagi yaa.” Pesan Alim kepada adiknya yang sedang membuat minuman
hanget buat ibuknya. “jangan lupa oleh-oleh ya mas..!” permintaan Aan
yang belum pernah menempuh kota metropolitan itu. “InsyaAllah, semoga saja”
tanggapan Alim.
Malam semakin larut. Alim mulai sibuk mengemaskan pakaiannya.
Bapak, ibu dan Aan tertidur pules. Sambil mengemaskan barang-barangnya, Alim
bergumam dihatinya “Ya Allah.. berikan kesehatan yang sempurna kepada
keluargaku ini. Mudahkanlah segala urusan kami, dimanapun kami berada, dan
janganlah Engkau berikan kesulitan. Tegur kami jika melakukan kesalahan. Ya
Allah.. jika perjalanan ini bernilai kebaikan disisiMu, maka berikanlah
kelancaran dan bimbinganMu, jika bernilai keburukan dan mendatangkan murka
Engkau, maka sadarkan hamba secepatnya.”
Keesokkan harinya dipagi yang indah berselimutkan udara dingin,
dengan tas disandangnyadan memakai sepatu pentofel mengkilat hitam serta
pakaian rapi, Alim terlihat siap melakukan perjalanan ke Jakarta. Setelah
pamitan dengan orang tua dan adiknya, Alim berjalan menuju sekolah. Dari
sekolah, bersama rombongan Alim menuju bandara Juanda Surabaya. Dari bandara
Surabaya, rombongan terbang menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Tepat pukul 10.30 Alim dan rombongan telah menginjakkan kakinya di
bandara Ibukota. Alim memasuki lokasi acara tepat saat azan Zuhur berkumandang
pada waktu setempat. Mulai dari kedatangan, hingga pergelaran acara pembukaan
rombongan terlihat bersantai ria di ruangan yang telah ditetapkan. Alim
menggunakan waktu luang tersebut untuk menikmati suasana kota Jakarta di sore
hari.
Saat Alim dan teman-temannya jalan-jalan sore disekitar Menteng
Jakarta Pusat, tiba-tiba Alim berpapasan dengan seorang pemuda yang
diperkirakan seumurannya dengannya. Ketika Alim melihat pemuda itu, ekspresinya
seakan mengenal pemuda itu. Alim mencoba mengingat kembali masa lalunya terkait
dengan pemuda itu. Saat asyiknya melangkahkan kaki, secara tiba-tiba Alim yang
memakai kemeja batik merah ala Gresik itu menghentikan langkahnya dan melihat
kebelakang sambil bergumam di hatinya “rasa-rasanya saya kenal dengan pemuda
itu, tapi siapa yah?”
Tanpa diduga, hal yang sama juga dirasakan oleh pemuda yang
menggunakan kemeja hitam bergaris-garis biru itu. Dalam sesaat dia juga
berpaling dan melihat kearah Alim. Di akhir ingatannya barulah, Alim dan pemuda
sama-sama ingat akan mereka. “Alim kan?” Tanya pemuda itu dengan ekpresi
mengingat dan menebak. Alim yang masih tidak percaya akan kejadian itu spontan
juga bertanya “sampean Isma kan?”
![]() |
| Alim dan Isma foto bareng saat di Pondok Shabran |
Isma adalah salah satu sahabat akrab Alim saat nyantri di Pondok
Pesantren Muhammadiyah Shabran Jawa Tengah beberapa tahun silam. Sembari
nyantri di pondok tersebut, mahasantri menyelesaikan studi di Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Semenjak menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam,
Isma berdarah Minangkabau itu melanjutkan studinya ke pascasarjana disalah satu
Universitas Islam di Bogor. Sedangkan Alim menjalankan pengabdiannya di Daerah
Muhammadiyah Gresik.
Saat itu, terlihat suasana pertemuan dua sahabat akrab yang lama
terpisah. Alim dan Isma saling berpelukan. Pertemuan itu dibumbui dengan rasa
tawa dan haru dari keduanya. “MasyaAllah mas Isma, sampean kelihatan sehat
sekali, makin gemuk dan putih. Setelah sekian lama kita terpisah oleh jarak dan
waktu, berbagai gunung dan lika-liku jalan menjadi pemisah antara kita. Tanpa
diduga dan diniatkan, moment yang ditunggu-tunggu selama ini dapat terwujud
lagi” Ucap Alim dengan ciri khas Gresiknya sambil memegang pangkal lengan
sahabatnya itu. Isma yang juga tidak menyangka akan pertemuan juga berucap “tidak
ada niat untuk memutuskan silaturahmi, tiap hari saya selalu merindui
waktu-waktu kita bersama di asrama dulu, kita berdiskusi, lomba membaca dan
memahami teks, berbagi kesetiaan dan mengukir kenangan persahabatan, serta
jalan-jalan.”
Di tengah tawa ceria kedua persahabatan itu, Alimpun memperkenalkan
rekan-rekannya kepada Isma, begitu juga sebaliknya. “ada acara apa di
Jakarta?” Isma mencari tau penyebab pertemuannya dengan teman sekamarnya
semasa nyantri itu. “kami mengikuti acara lokakarya Guru di gedung itu”
jawab Alim sambil menunjuk ke gedung Menteng yang menjulang tinggi ke langit.
| Isma dan rekannya terlihat sibuk di kantornya (Majlis Tabligh) |
“oh,, saya ngantor disitu, nanti kita bisa ngobrol panjang” jawab Isma yang ternyata bekerja digedung tempat lokasi acara
lokakarya itu. “okelah, kalau begitu saya kesana dulu yah” kata Alim
sambil menunjuk kearah Barat bersama kedua temannya. “oke, sampai ketemu
nanti setelah sholat Maghrib yah,” tanggapan Isma sambil melambaikan
tangannya. Akhirnya, kedua sahabat itu terpisah sejenak.
***
Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat, terdiri
dari empat lantai. Di gedung berwarna coklat juga terdapat berbagai kantor majelis
dan organisasi otonom muhammadiyah. Sebagai center pergerakan organisasi
Muhammadiyah, gedung itu tidak pernah terlihat sepi. Hampir setiap hari
dipenuhi oleh para kader muhammadiyah baik yang datang dari wilayah, daerah dan
cabang atau dari pengurus tingkat pusat itu sendiri.
| Gedung Dakwah Muhammadiyah dilihat dari depan |
Majlis Pendidikan mengadakan Lokakarya guru tingkat nasional. Alim
sebagai kader muhammadiyah mewakili sekolahnya. Sedangkan Isma adalah salah
satu staf di Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus. Sesuai keputusan panitia
pelaksana, ruang nginap Alim ditempatkan di ruang Dewan Pimpinan Pusat Ikatan
Pemuda Muhammadiyah tepatnya di lantai empat. Majlis Tabligh sebagai kantor
hariannya Isma, terletak di lantai tiga. Tidak jarang juga kadang Isma sering
menginap di kantornya itu.
Setelah sholat isya secara berjama’ah, peserta lokakarya yang
berjumlah kurang lebih 25 orang itu tampak mengikuti acara pembukaan diruangan
aula lantai dasar. Saat pembukaan berlansung, Isma sedang asyik mengerjakan tugas
di ruangannya. Pembukaan yang berlansung setengah jam itu berjalan lancar.
Acara dibuka oleh ketua majlis pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu
sendiri.
“Gak ikut acara pembukaan lokakarya di lantai dasar Is?” tanya Ridho salah satu teman kerja Isma di Majelis Tabligh. Isma
yang terlihat sibuk dan banyak pekerjaan itu menjawab “Gak, saya ada
deadline nih”. Mendengarkan jawaban itu, Ridho memberikan saran terkait
tugas Isma “siapa tau kamu bisa meliput dan dijadikan sajian utama majalah
kita edisi bulan depan”. Isma hanya tertawa kecil yang berucap “hehe,
kan sudah ada Firman yang ngliput”. Firman adalah rekan kerjanya Isma dan
Ridho.
Tidak lama saatnya, acara pembukaan itu berakhir. Semua peserta
menuju ruang nginapnya masing-masing. Berbeda dengan Alim, dia terlihat menuju
ruang majlis tabligh menemui Isma. “Assalamu’alaikum” ucap Alim dari
luar, “Wa’alaikumsalam” jawab Ridho dan Isma secara bersamaan. Karena
tidak dikunci dan telah dipersilahkan masuk, Alim masuk daln lansung menyalami dua
pemuda yang sedang bertugas itu.
![]() |
| Isma berfoto di depan gedung pascasarjana tempat studinya |
Isma dengan hati senang menyambut kedatangan Alim sesuai janji
mereka sebelumnya. Ismapun memperkenal Alim dengan Ridho. “Alhamdulillah
datang juga, saya kira lupa atau sudah istirahat. Ohya, kenalkan ini Ridho
teman kerja saya disini,” ucap Isma yang berdampingan dengan Ridho dan
Alim. Alimpun sekonyong-konyongnya mengulurkan tangan dan berbagi senyuman
dengan Ridho. Begitu juga sebaliknya.
Ridho terlihat kembali ke meja dan komputernya melanjutkan
tugasnya. Sedangkan Isma mengajak Alim berbincang dan bercengkrama ke ruang
rapat. Ruangan itulah menjadi saksi bisu pertemuan dua sahabat itu. Mereka
saling berbagi berbagai cerita, baik cerita pribadi, keadaan keluarga, studi
dan kesibukannya saat ini. Dengan semangat Isma menceritakan semua
pengalamannya begitu juga dengan Alim. Itulah yang menjadi kebiasaan mereka sewaktu
di pesantren.
“Sekian lama tidak berkumpul bersama, kita menelusuri jalur kita
sendiri-sendiri. Biasanya di asrama, dua jam saja tidak berjumpa kamu banyak
bercerita tentang apa yang kamu alami selama dua jam itu. Sekarang sudah
bertahun-tahun, tentu lebih banyak hal-hal yang akan kamu ceritakan” Isma terlihat memulai percakapan di ruang rapat itu. Alim yang
juga ingin melakukan itu juga menanggapi dengan baik “mas, saya tidak dapat
membayangkan jika beberapa tahun terakhir ini kita bersama dalam mengharungi
waktu. Tentu sampean juga merasakan apa yang ku rasakan, semua tindak-tandukku
selalu mengingatkanku akan kebersamaan kita di asrama dulu” ucap Alim
sambil tersenyum kecil.
“Itulah hidup Lim, semuanya bukan atas kendali kita, kita hanya
bisa menjalankan dengan diiringi do’a agar semua yang terjadi sesuai dengan
kehendak hati. Yang pastinya, kita tidak menyalahkan berbedanya aktifitas dan
lokasi domisili kita. Apapun aktifitas kita, semoga selalu diberkahi dan di
rahmatiNya, sehingga jalan menuju sukses itupun semakin terbuka lebar bagi kita” ucap Isma yang umurnya setahun lebih tua dari Alim.
“Iya mas, jika di analogi, maka akan ditemukan sebuah permisalan” ucap Alim yang kebiasaannya dengan suara rendah. “Analogi?
Sekarang sudah pintar main analogi ya?” jawab Isma menggoda Alim yang
sedang serius itu. “percuma kita berharap bisa berjalan di atas awan,
meskipun terlihat indah tapi kita tidak akan menemukan pijakan” Alim
berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya ibarat ustadz yang sedang ceramah
di mimbar.
Berbagai hal menjadi topik pembicaraan dua persahabatan itu, dengan
rasa penasaran Isma melanjutkan pertanyaannya “apa kesibukanmu semenjak
menyandang gelar sarjana pendidikan Islam?” dengan sebilas sumbringah
bibirnya Alim menanggapi “saya sekarang ngajar di SMP Muhammadiyah 12
Gresik. SMP tempat saya menimba ilmu dahulu kala mas”. Isma terlihat senang
dan bangga memiliki sahabat seperti Alim, mendengarkan jawaban itu, dengan
bangga Isma berucap “bagus Lim, sebagai kader Muhammadiyah kita memang harus
mengabdi ke Muhammadiyah. Itulah yang dipesankan oleh KH. Ahmad Dahlan: jadilah
kalian insinyur, dokter, profesor, teknisi, dan ilmu apapun yang kalian dalami,
setelah itu kembalilah ke Muhammadiyah”
Mendengarkan perkataan itu, Alim melanjutkan “Iya mas, begitulah
pesan pendiri Organisasi Muhammadiyah ini: Muhammadiyah sekarang akan berbeda
dengan Muhammadiyah akan datang, oleh karena itu jangan berhenti untuk menuntut
ilmu agar kita sebagai kader Muhammadiyah mampu melansungkan perjuangan dakwah
Muammadiyah”.
“bagaimana kabar keluarga di Gresik? Saya harap semoga semua
baik-baik saja” Isma mulai
bertanya sambil mengenang moment dia bersilaturahmi ke Gresik kediaman Alim
suatu waktu silam. Alim dan Isma yang selalu saling terbuka dalam tiap
permasalahan, Alim terlihat berwajah sedikit murung ketika ditanya perkara
orang tuanya. Melihat ekpresi Alim yang berbeda, Isma merasa ada sesuatu yang
tidak beres di wajah sahabat yang baru saja tertawa bersama itu.
“ada apa Lim? Ibu bapak dirumah baik-baik saja kan?” telusuri Isma. “Alhamdulillah semuanya baik-baik saja mas,
hanya saja...” jawab Alim dengan suara sedikit tersendak. “hanya saja
kenapa?” Isma seperti tidak sabar menunggu tuturan kata Alim. Mendengarkan
pertanyaan seperti itu, Alim mengungkap semua apa yang dirasakannya.
“Kenapa ya mas, ibu dan bapak saya tidak mau menerima uang
pemberian dari saya, tidak mau menerima sesuatu yang berikan. Setiap gajian
awal bulan, saya berikan kepada mereka tapi mereka tidak mau menerima. Saya
belikan sesuatu, buah, pakaian, makanan atau apapun, mereka menyelidiki dan
melarang belanja lagi”
Alim mulai curhat dengan mata memerah bak merahnya buah delima. Seakan ingin
meneteskan dan mencucurkan air mata. “saya salah apa ya mas?” lanjutnya.
Isma terlihat kaget mendengarkan cerita temannya itu, pemuda yang
selalu berpikir solutif itu mencoba menyelidiki permasalahan itu. “kenapa
bisa orang tuamu seperti itu? Kamu sudah tanya baik-baik belum?” tanya
Isma. Sambil menghela nafas, Alim menceritakan lebih detail kepada kakak
kelasnya di pesantren waktu silam itu, “sudah mas, setiap saya berikan uang
mereka berkata: simpan saja uangmu nak, tidak usah dikeluarkan dan digunakan
selagi ibu dan bapak masih kuat untuk bekerja dan menghasilkan uang untuk
kebutuhan kita” kenang Alim.
Isma yang mulai paham dengan keadaan dan maksud orang tua Alim,
mencoba memberikan pengertian “Lim, banyak kok orang tua yang seperti itu.
Kamu tidak usah bersedih dan berpemikiran negatif, saya rasa itulah reaksi
orang tuamu untuk melihatmu bahagia dikemudian hari. Dan itulah salah satu
bentuk tanggung jawabnya kepadamu sebagai anaknya yang belum menikah. Jika kamu
sudah berumah tangga, maka mustahil orang tua akan seperti itu” Isma seakan
menceramahi Alim yang duduk dihadapannya itu.
“Sehari sebelum saya berangkat kesini ibu sedang sakit. Bapak
menolak uang saya untuk membeli obat ibu, padahal bapak sedang tidak memegang
uang. Bapak lebih memilihi meminjam keteman kerjanya dari pada memakai uang
dari saya” lanjut Alim
mengenang masanya beberapa waktu yang silam. “itu wajar Lim, sekarang kamu
turutin saja semua keinginan orang tuamu” pesan Isma sambil mengelus pundak
sahabatnya itu.
“kalau boleh saya menebak, pasti orang tuamu telah menyuruhmu untuk
segera menikah,” Isma menebak
perasaan Alim. Mendengarkan pernyataan itu, Alim yang memang disuruh menikah
itu sedikit terkejut dan menatap wajah Isma “iya mas, kok mas Isma bisa
mengerti dengan keadaan itu?” jawab Alim dengan ekpresi terkejut. “ya sudah,
sekarang kamu segera menikah saja Lim” tiba-tiba Isma memberikan saran yang
serupa dengan sarang orang tua Alim.
Mendengarkan pesan Isma itu, Alim terlihat berpikir dan merenung.
Saat Alim terdiam dalam renungannya, tiba-tiba Isma mengajak Alim berpikir
analogi “tadi kamu ajak saya berpikir analogi, sekarang saya juga mengajak kamu
bepikir analogi” ucap Isma sambil tersenyum kecil. Mendengar itu, Alim
menanggapi dengan rasa heran dan ingin tau. “apa mas?” tanya Alim.
“Umpamakan kamu sedang tenggelam dalam sebuah waduk, dari luar
waduk ada ibu dan istri melambaikan tangannya untuk menolongmu. Mana tangan
yang akan kamu raih duluan?” mendengarkan pertanyaan itu, Alim terlihat bingung
dan mencoba menjawab “gak tau mas” kata Alim dengan santai.
“Umpamakan lagi ibu dan istrimu tenggelam di waduk, dan mereka
meminta bantuan padamu dengan menjulurkan tangannya. Sedangkan kamu berada di
luar waduk, tangan siapa yang akan kamu tarik terlebih dahulu?”. Pertanyaan itu
membuat Alim makin bingung. “ibu toh mas” pungkas Alim dengan wajah yakin.
Isma yang hanya senyum-senyum kecil mencoba menerangkan. “jadi
begini Lim, kalau kamu yang tenggelam, maka kamu harus raih tangan ibukmu.
Kenapa? karena kamu adalah tanggung jawab ibukmu. Tapi jika ibu dan istrimu
yang tenggelam, maka kamu harus menolong istrimu terlebih dulu, setelah itu
baru istrimu. Kenapa? karena istri adalah tanggung jawabmu dunia dan akhirat”.
Alim terlihat protes “loh, berarti kita jadi anak durhaka
donk?”. Isma kembali menanggapi maksud Alim, “kita tidak menjadi anak
durhaka, karena memang istri adalah tanggung jawabmu, setelah itu bantulah
orang tuamu”. Alim yang mulai paham dengan analogi itu mengangguk-angguk “Oh
ya yah” ucapnya sambil menghela nafas. Perkataan dari Isma itu, membuat
Alim merasa tenang akan permasalahan yang membuat dia gelisah.
Malam semakin larut, tak terasa dua jam sudah bercengkrama. Alim
merasa sangat senang, seolah mendapatkan pecerahan dari segala permasalahannya.
Hal yang sama juga dirasakan Isma, waktu yang dinanti selama ini dapat terwujud
tanpa rencana dan agenda. Mereka sama-sama menyadari itulah kekuasaan Allah.
Diakhir percakapan itu, tiba-tiba Isma bertanya “Lim, acara
lokakarya tiga hari kedepan ya?”. Dengan rasa penasaran Alim menjawab “iya
mas, kenapa?”. Mendengarkan jawaban itu, Isma mengajak Alim berfoto untuk
kenang-kenangan “sebelum tidur kita foto bareng yuk, biar menjadi
kenang-kenangan dan saksi bisu pertemuan ini. Karena tiga hari kedepan saya
juga punya tugas di luar kota” permintaan itupun diindahkan Alim.
![]() | |
| Alim (berdiri) dan Isma (duduk) saat foto di Menteng Jakarta |
Dengan bantuan Ridho, satu saksi bisu telah terbentuk. Perpisahan
kembali menghampiri mereka berdua. Pertemuan singkat itu sangat membuahkan
sesuatu yang sangat berharga bagi keduanya. Alim kembali keruangannya sedangkan
Isma melanjutkan aktifitasnya hingga ngantuk menghampiri matanya.
Tiga hari kemudian, “Is, ada titipan surat buatmu” kata
Ridho. Dengan ekpresi penasaran “titipan surat dari siapa?” tanya Alim. “baca
aja deh” jawab Ridho sambil membuka komputer.
Ternyata itu adalah surat kecil dari Alim, dia menuliskan:
“Mas,
kalau kita tidak bertemu lagi, melalui surat kecil ini saya pamit pulang ke
Gresik ya, terima kasih atas semuanya. Sungguh waktu yang sangat berharga saat
berjumpa denganmu. Berharap akan terulang kembali pertemuan ini.Telusurilah
jalanmu untuk menemui masa depanmu, begitu juga dengan saya, akan menelusuri
jalan saya seterusnya. Kita harus menjadi orang yang hebat.”
By: Alim Kamil
Setelah membaca surat itu, Isma bergumam dalam hatinya “semoga
kau menemukan kesuksesanmu sahabatku”.
Waktu terus berlalu, Alim dan Isma menjalankan aktifitasnya
masing-masing. Pak Rosyadin dan Ibuk Sayuti merasa senang karena Alim pulang
dengan selamat. Aan juga mendapatkan oleh-oleh pesanannya.
[1] cemberut
[2] Lim, sudah azan Maghrib nak, ayo berwudhu, sholat berjamaah dirumah
saja ya
[3] Ya buk, saya mau berwudhu dulu
[4] Buk bapak kok belum pulang, kemana ya?
[5] Kata-kata “lee” itu digunakan sapaan untuk anak laki-laki di Jawa
[6] Alhamdulillah bapak sudah pulang. Baru saja ditanyain anak-anak
[7] Berangkat sama siapa nak?





Tidak ada komentar:
Posting Komentar