Minggu, 16 Februari 2014

“Karena Hajat Sang Ayah” (Sebuah Autobiografi Singkat)



 Sebuah Autobiografi Singkat


Ismail di Masjid Al-Hijr II Bogor
ISMAIL SYAKBAN, lahir di Sulit Air 14 Maret 1990. Berasal dari keluarga kampung yang awam disudut desa Linawan kenagarian Sulit Air, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok Sumatra Barat. Dia adalah putra ke-9 dari pasangan Saharruddin (Alm) dengan Maimunnah. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 14 Ganting Dodok Sulit Air lulusan tahun 2003. Kemudian menlanjutkan ke MTs Muhammadiyah Balik Parit Sulit Air lulusan tahun 2005. Setelah itu, melanjutkan ke MA Muhammadiyah Sawitan Sulit Air sambil nyantri di Madrasah Diniyah Ulya Nurul Falah Sulit Air lulusan tahun 2008. Tidak cukup sampai situ, Ismail berkesempatan melanjutkan ke Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (S1) sambil nyantri di Pondok Pesantren Kader Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran Solo Jawa Tengah lulusan tahun 2012. Merasa tak cukup dengan ilmu yang didapatkan Ismail kembali melanjutkan studinya ke Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam program Magister Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor (S2) dan kembali nyantri di Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albaab UIKA Bogor lulusan tahun 2014.
Sejak kecil Ismail biasa dilatih hidup mandiri oleh ibunya. Ismail memiliki semangat belajar yang tinggi, dia menyadari sebenarnya kondisi keluarga tidak mengizinkan untuk melanjutkan pendidikan, namun dengan modal semangat dan optimis dia bertekad untuk selalu melanjutkan pendidikan tanpa ingin memberatkan orang tua.
Ismail Saat diberi amanah menjadi Imam disalah satu Masjid di Bogor Jawa Barat.


Sosok yang hobi nyanyi ini harus rela kehilangan ayahnya saat dia masih berumur 12 tahun. Sang ayah berpulang ke Rahmatullah karena sakit. Sang ibu, hanyalah seorang yang awam namun tidak luput untuk memberikan motivasi belajar yang tinggi kepada anak-anaknya. Selama menempuh pendidikan Ismail dan sepuluh saudaranya diberi uang jajan dari hasil jual kayu bakar, jualan sayuran, dan hasil gaji cocok tanam di sawah orang lain. Seribu demi seribu yang dikumpulkan demi membelanjai dan membiayai pendidikan anaknya. Bekerja sebatang kara tanpa rasa keluh kesah, tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. “nak,, jangan mentang-mentang karena kita miskin, terpencil, itu mematahkan semangatmu untuk belajar, kamu harus bisa ‘mambangkik batang tarandam’.”
Di Sekolah Dasar, Ismail termasuk siswa yang berprestasi, dia mengikuti berbagai perlombaan mewakili sekolah sehingga putra yang suka mendengarkan musik ini memperoleh beasiswa berupa seragam sekolah merah-putih, hitam-putih dan seragam pramuka. Hal ini yang dapat mengobati rasa capeknya sang ibu yang membanting tulang karena melihat putranya berprestasi dan memperoleh beasiswa. “prestasi dan beasiswamu ini, dapat menghapus cucuran keringat ibu nak,,”
Saat menempuh studi di MTs (Madrasah Tsanawiyah), dikelas 1 dengan tidak ada rasa gengsi Ismail jualan peyek kacang pada teman-teman sekelasnya. Dikelas 2 hingga lulus, sosok yang mudah senyum ini bekerja sebagai Cleaning Service disekolah tersebut, dengan fasilitas gaji bulanan serta gratis uang SPP bulanan dan pembangunan. Meskipun sedikit, namun hal ini sangat menyenangkan hatinya yang merasa ikut serta meringankan beban orang tuanya. “nak,, tidak seharusnya ibu membiarkanmu bekerja sambil belajar dengan umurmu sekarang ini,, maafkan ibu nak,,”
Saat mendaftar di MA (Madrasah Aliyah), Ismail sempat putus asa karena sang ibu sama sekali tidak punya biaya untuk menyekolahkannya. Ibunya memberikan uang dari hasil jualan daun ubi digunakan untuk pendaftaran. Dengan iringan air mata ibunya berkata: “nak, pakailah uang ini untuk pendaftaran sekolahmu, jangan hiraukan apa-apa dulu, sekarang pergilah sekolah dan daftarkan namamu di sekolah yang kamu suka”.
Ismail Bersama Azaki Khoiruddin di Ruangan MTDK PP Muhammadiyah 2014
Jarak sekolah MA lebih jauh dari MTs sebelumnya, karena tiap hari jalan kaki pulang pergi sekolah dan menghabiskan waktu 60menit berjalan kaki dengan jalan yang tanjakan dan tidak tega melihat sang ibu membanting tulang, Ismail berkata pada ibunya: “bu, saya mau minta izin, tinggal di Kota saya kerja di jadi Garim Masjid. Itung-itung meringankan beban ibu”. Mendengarkan permintaan anaknya, sang ibu yang tidak pernah membatasi kemauan anaknya itu hanya mengikhlaskan dan mendo’akan selalu anaknya, “nak, Almarhum ayahmu pernah berpesan, ibu disuruh mendidikmu agar menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat dan agama,,”
Selama di MA, sembari hidup di Masjid sosok yang terkenal dengan anak yang patuh ini terus menggali dan mengembangkan prestasinya, hingga akhirnya dia terpilih sebagai Ketua Umum IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) selama satu setengah periode. Disela-sela waktunya mengurusi Masjid dan organisasinya, dia juga menyantrikan dirinya di Madrasah Diniyah Ulya Nurul Falah. Dia juga mendapatkan beasiswa prestasi dan beasiswa yatim. Dari berbagai beasiswa itulah dia membiayai pendidikannya sendiri.
Karena aktif di IPM, Ismail kembali mendapat beasiswa untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta sembari di asramakan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran Jawa Tengah atas rekomendasi dari kepala sekolahnya. Hal ini membuat air mata sang ibu “jatuah kadalam”. Namun rasa bangga yang mendalam terbesit dalam hatinya. “nak, ibu tidak bisa menyekolahkanmu, apalagi menguliahkanmu, hanya kepintaranmu yang menguliahkanmu.”
Ismail bersama Azaki di PHNS Solo Jateng 2011
Saat pertama kali berangkat ke tanah Jawa sang ibu membekali dengan segelas beras, dua biji cabe dan dua biji bawang merah sebagai rasa tanggung jawab sebagai orang tua. Namun itu adalah motivasi yang tiada ada duanya bagi Ismail. Dengan tetesan air mata, dia harus ikhlas meninggalkan ibu, keluarga dan kampungnya selama dia studi di tanah Jawa.
Meskipun beasiswa, Ismail tidak mau lengah, dia tetap mencari kerja disela-sela waktu kuliahnya sebagai penambah uang sakunya. dia mengrajini berbagai profesi dan pekerjaan. Selama bergelut dengan dunia kampus, dia tidak hanya kuliah, namun aktif diberbagai elemen organisasi mahasiswa di kampus seperti DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Islamika, KM3 (Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah).
Meskipun sebagai aktivis yang super sibuk, namun Ismail tetap menjadikan kuliah sebagai prioritasnya, hasilnya dia mampu menyelesaikan studi Sarjananya dalam waktu 3,5 tahun (7 semester) dengan judul skripsinya “Hubungan Pendidikan Baitul Arqom dengan Perilaku Berpakaian Islami bagi Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun Akademik 2011/2012”.
Ismail dengan tiga orang teman sekelas, saat di pascasarjana UIKA Bogor
Merasa belum cukup dengan gelar sarjana, sosok yang biasa dipanggil Rang Bujang ini kembali mencari beasiswa Pascasarjana, walhasil dia diterima di konsentrasi Pendidikan dan Pemikiran Islam Program Magister Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor sembari kembali menyantrikan diri Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albaab Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Di Pondok Ulil Albab inilah, Ismail bertemu dengan sosok-sosok yang haus akan ilmu pengetahuan. Dari berbagai pelosok dan disiplin ilmu bercampur jadi satu atap, menjadi kebanggaan tersendiri baginya bisa menjadi salah satu santri pondok Ulil Albab dan mahasiswa pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor. Berharap dapat merealisasikan hajat almarhum ayahnya. Dia menyelesaikan studi pascasarjananya pada tahun 2014
Inilah hajat dari sang ayah, hingga kini Ismail selalu berusaha memfungsikan dirinya untuk masyarakat dan agama. Penulis bisa dihubungi ke Hp (0852 2972 8893), email (ismail.syakban@gmail.com), dan akun facebook (Ismail Rang Bujang Al-Minangkabawy)[IsRb]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar