Sebuah Autobiografi Singkat
![]() |
| Ismail di Masjid Al-Hijr II Bogor |
ISMAIL SYAKBAN, lahir di
Sulit Air 14 Maret 1990. Berasal dari keluarga kampung yang awam disudut desa
Linawan kenagarian Sulit Air, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok Sumatra
Barat. Dia adalah putra ke-9 dari pasangan Saharruddin (Alm) dengan Maimunnah.
Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 14 Ganting Dodok Sulit Air
lulusan tahun 2003. Kemudian menlanjutkan ke MTs Muhammadiyah Balik Parit Sulit
Air lulusan tahun 2005. Setelah itu, melanjutkan ke MA Muhammadiyah Sawitan
Sulit Air sambil nyantri di Madrasah Diniyah Ulya Nurul Falah Sulit Air lulusan
tahun 2008. Tidak cukup sampai situ, Ismail berkesempatan melanjutkan ke
Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (S1)
sambil nyantri di Pondok Pesantren Kader Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran
Solo Jawa Tengah lulusan tahun 2012. Merasa tak cukup dengan ilmu yang
didapatkan Ismail kembali melanjutkan studinya ke Jurusan Pendidikan dan
Pemikiran Islam program Magister Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn
Khaldun Bogor (S2) dan kembali nyantri di Pondok Pesantren Mahasiswa dan
Sarjana Ulil Albaab UIKA Bogor lulusan tahun 2014.
Sejak kecil Ismail biasa dilatih hidup mandiri oleh ibunya. Ismail
memiliki semangat belajar yang tinggi, dia menyadari sebenarnya kondisi
keluarga tidak mengizinkan untuk melanjutkan pendidikan, namun dengan modal
semangat dan optimis dia bertekad untuk selalu melanjutkan pendidikan tanpa
ingin memberatkan orang tua.
![]() | |||
| Ismail Saat diberi amanah menjadi Imam disalah satu Masjid di Bogor Jawa Barat. |
Sosok yang hobi nyanyi ini harus rela kehilangan ayahnya saat dia
masih berumur 12 tahun. Sang ayah berpulang ke Rahmatullah karena sakit. Sang
ibu, hanyalah seorang yang awam namun tidak luput untuk memberikan motivasi
belajar yang tinggi kepada anak-anaknya. Selama menempuh pendidikan Ismail dan
sepuluh saudaranya diberi
uang jajan dari hasil jual kayu bakar, jualan sayuran, dan hasil gaji cocok
tanam di sawah orang lain. Seribu demi seribu yang dikumpulkan demi membelanjai
dan membiayai pendidikan anaknya. Bekerja sebatang kara tanpa rasa keluh kesah,
tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. “nak,, jangan
mentang-mentang karena kita miskin, terpencil, itu mematahkan semangatmu untuk
belajar, kamu harus bisa ‘mambangkik batang tarandam’.”
Di Sekolah Dasar, Ismail termasuk siswa yang berprestasi, dia mengikuti
berbagai perlombaan mewakili sekolah sehingga putra yang suka mendengarkan
musik ini memperoleh beasiswa berupa seragam sekolah merah-putih, hitam-putih
dan seragam pramuka. Hal ini yang dapat mengobati rasa capeknya sang ibu yang
membanting tulang karena melihat putranya berprestasi dan memperoleh beasiswa. “prestasi
dan beasiswamu ini, dapat menghapus cucuran keringat ibu nak,,”
Saat menempuh studi di MTs (Madrasah Tsanawiyah), dikelas 1 dengan
tidak ada rasa gengsi Ismail jualan peyek kacang pada teman-teman sekelasnya.
Dikelas 2 hingga lulus, sosok yang mudah senyum ini bekerja sebagai Cleaning
Service disekolah tersebut, dengan fasilitas gaji bulanan serta gratis uang
SPP bulanan dan pembangunan. Meskipun sedikit, namun hal ini sangat
menyenangkan hatinya yang merasa ikut serta meringankan beban orang tuanya. “nak,,
tidak seharusnya ibu membiarkanmu bekerja sambil belajar dengan umurmu sekarang
ini,, maafkan ibu nak,,”
Saat mendaftar di MA (Madrasah Aliyah), Ismail sempat putus asa
karena sang ibu sama sekali tidak punya biaya untuk menyekolahkannya. Ibunya
memberikan uang dari hasil jualan daun ubi digunakan untuk pendaftaran. Dengan
iringan air mata ibunya berkata: “nak, pakailah uang ini untuk pendaftaran
sekolahmu, jangan hiraukan apa-apa dulu, sekarang pergilah sekolah dan
daftarkan namamu di sekolah yang kamu suka”.
![]() | |
| Ismail Bersama Azaki Khoiruddin di Ruangan MTDK PP Muhammadiyah 2014 |
Jarak sekolah MA lebih jauh dari MTs sebelumnya, karena tiap hari
jalan kaki pulang pergi sekolah dan menghabiskan waktu 60menit berjalan kaki
dengan jalan yang tanjakan dan tidak tega melihat sang ibu membanting tulang,
Ismail berkata pada ibunya: “bu, saya mau minta izin, tinggal di Kota saya
kerja di jadi Garim Masjid. Itung-itung meringankan beban ibu”.
Mendengarkan permintaan anaknya, sang ibu yang tidak pernah membatasi kemauan
anaknya itu hanya mengikhlaskan dan mendo’akan selalu anaknya, “nak,
Almarhum ayahmu pernah berpesan, ibu disuruh mendidikmu agar menjadi anak yang
bermanfaat bagi masyarakat dan agama,,”
Selama di MA, sembari hidup di Masjid sosok yang terkenal dengan
anak yang patuh ini terus menggali dan mengembangkan prestasinya, hingga
akhirnya dia terpilih sebagai Ketua Umum IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah)
selama satu setengah periode. Disela-sela waktunya mengurusi Masjid dan organisasinya,
dia juga menyantrikan dirinya di Madrasah Diniyah Ulya Nurul Falah. Dia juga
mendapatkan beasiswa prestasi dan beasiswa yatim. Dari berbagai beasiswa itulah
dia membiayai pendidikannya sendiri.
Karena aktif di
IPM, Ismail kembali mendapat beasiswa untuk menempuh studi di Universitas
Muhammadiyah Surakarta sembari di asramakan di Pondok Pesantren Muhammadiyah
Hajjah Nuriyah Shabran Jawa Tengah atas rekomendasi dari kepala sekolahnya. Hal
ini membuat air mata sang ibu “jatuah kadalam”. Namun rasa bangga yang mendalam
terbesit dalam hatinya. “nak, ibu tidak bisa menyekolahkanmu, apalagi
menguliahkanmu, hanya kepintaranmu yang menguliahkanmu.”
![]() |
| Ismail bersama Azaki di PHNS Solo Jateng 2011 |
Saat pertama kali berangkat ke tanah Jawa sang ibu membekali dengan
segelas beras, dua biji cabe dan dua biji bawang merah sebagai rasa tanggung
jawab sebagai orang tua. Namun itu adalah motivasi yang tiada ada duanya bagi
Ismail. Dengan tetesan air mata, dia harus ikhlas meninggalkan ibu, keluarga
dan kampungnya selama dia studi di tanah Jawa.
Meskipun beasiswa, Ismail tidak mau lengah, dia tetap mencari kerja
disela-sela waktu kuliahnya sebagai penambah uang sakunya. dia mengrajini
berbagai profesi dan pekerjaan. Selama bergelut dengan dunia kampus, dia tidak
hanya kuliah, namun aktif diberbagai elemen organisasi mahasiswa di kampus
seperti DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), IMM
(Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Islamika, KM3
(Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah).
Meskipun sebagai aktivis yang super sibuk, namun Ismail tetap
menjadikan kuliah sebagai prioritasnya, hasilnya dia mampu menyelesaikan studi
Sarjananya dalam waktu 3,5 tahun (7 semester) dengan judul skripsinya “Hubungan
Pendidikan Baitul Arqom dengan Perilaku Berpakaian Islami bagi Mahasiswa Fakultas
Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun Akademik 2011/2012”.
![]() |
| Ismail dengan tiga orang teman sekelas, saat di pascasarjana UIKA Bogor |
Merasa belum cukup dengan gelar sarjana, sosok yang biasa dipanggil
Rang Bujang ini kembali mencari beasiswa Pascasarjana, walhasil dia
diterima di konsentrasi Pendidikan dan Pemikiran Islam Program Magister
Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor sembari kembali
menyantrikan diri Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albaab
Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Di Pondok Ulil Albab inilah, Ismail bertemu dengan sosok-sosok yang
haus akan ilmu pengetahuan. Dari berbagai pelosok dan disiplin ilmu bercampur
jadi satu atap, menjadi kebanggaan tersendiri baginya bisa menjadi salah satu
santri pondok Ulil Albab dan mahasiswa pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Berharap dapat merealisasikan hajat almarhum ayahnya. Dia menyelesaikan studi
pascasarjananya pada tahun 2014
Inilah hajat dari sang ayah, hingga kini Ismail selalu berusaha memfungsikan
dirinya untuk masyarakat dan agama. Penulis bisa dihubungi ke Hp (0852 2972 8893),
email (ismail.syakban@gmail.com), dan akun facebook (Ismail Rang Bujang Al-Minangkabawy)[IsRb]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar