Kamis, 20 Februari 2014

Sang Pengabdi (sebuah Cerpen)



Alim saat berada di Bukittinggi Sumatra Barat
Sudah menjadi keinginan setiap anak ingin membahagiakan orang tuanya. Bagaimanapun caranya, dia akan berusaha sekuat tenaga membuat ayah dan ibu menikmati bahagian dunia dari hasil jerih payah si anak. Sebaliknya, kadang kala demi masa depan anaknya, tidak ada orang tua yang tidak mau berkorban apapun.
Aresik Jawa Timur. Mursyida adalah kakak perempuan yang berjarak tiga tahun diatasnya, dan Aan nama alim adalah anak kedua dari tiga bersaudara, berasal dari keluarga kecil yang sederhana di sudut daerah Gdik laki-lakinya. Untuk menghidupi ketiga anaknya, bapak Rosyadin dan ibuk Sayuti sebagai orang tua harus bekerja keras.
Mursyida terpaksa menjalani hidup di kota yang berbeda dengan orang tua dan adik-adiknya demi mengikuti suaminya. Alim berprofesi sebagai guru disalah satu sekolah SMP Muhammadiyah yang tidak jauh dari rumahnya, sedangkan Aan masih duduk dibangku sekolah SMA. Tiap harinya, kerap sekali rumah keluarga kecil itu sepi dari penghuninya, karena orang tua dan anak-anaknya menjalankan aktifitasnya sehari-hari.
Kesibukan yang lakoni pak Rosyadin sebagai sopir mobil barang disalah satu toko besar disekitar rumahnya. Dia bertugas mengantar-jemput barang yang keluar-masuk di toko itu. Sedangkan istrinya di rumah menerima jasa strika pakaian dari tetangga. Dari hasil pekerjaan itulah, pasangan suami istri itu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang guna biaya kehidupan tiap hari dan biaya pendidikan anak-anaknya.
Isma dan Alim berseragamkan batik IMM
Suatu sore, pemuda sarjana pendidikan itu mengenang masa-masa kecilnya. Terlintas dipelupuk matanya sosok ibunya menyetrika baju tetangga beberapa tahun silam. Jika sore mulai datang, beberapa orang tetangga mulai berdatangan mengantarkan jemurannya untuk distrika. Hasil yang didapat cukup untuk pembeli beras.
Selain sosok ibunya, tubuh sang ayah yang rentan bekerja siang dan malam juga mengharungi ingatannya. Berangkat subuh pulang larut malam dengan membawa makanan untuk istri dan anak-anaknya. Rosyadin melihat wajah cerah pada bibir istri dan anaknya jika dia membawa makanan. Jika sosok yang selalu mondar mandir di kota Gresik itu pulang dengan tangan kosong, maka rasa kasihan merayap dalam hatinya melihat wajah-wajah yang merungut[1].
Tanpa disadari, setetes demi setetes air mata Alim berjatuhan membasahi pipihnya. Dia bangun dari renungannya itu saat ibunya memangil “Lim, wis azan maghrib lee, ndang wudhu sholat jama’ah neng omah wae yo”[2] ajak wanita separuh baya dari dalam rumah sembari mengambil mukenah dan sajadah. Alim yang duduk dibelakang dapur itupun terkejut dan mengelap airmatanya. “nggeh buk, aku tak wudhu sek”[3] jawab Alim bergegas ke kamar mandi. Aan juga terlihat bersiap-siap dengan seragam sholatnya.
Ibu dan dua anaknya itu terlihat rukun. Ketiganya melakukan sholat maghrib berjamaah yang dipimpin Alim. Suara lantunan bacaan ayat Al-Qur’an Alim sangat indah dan merdu, satu demi satu gerakan sholat mereka lewati. Mencium tangan ibunya setiap selesai sholat adalah hal yang tak terlupakan oleh Alim dan Aan.
Berzikir, berdo’a dan membaca Al-Qur’an menjadi rutinitas Alim dan Aan sembari menunggu waktu sholat Isya. Sedangkan ibu mempersiapkan makan malam sembari merapikan strikaan pakaian tetangga. Dalam keasyikan dengan kesibukannya masing-masing, tiba-tiba “buk, bapak kok urung muleh? Nang ndi yo bu?”[4] Aan bertanya kepada ibuknya yang sedang menghidangkan makanan. “ndak tau lee,[5] biasanya juga bapak pulang selesai sholat isya. Selesai sholat maghrib bapakmu harus bertemu dengan bosnya” jawab buk Sayuti.
Tak lama saat setelah itu, terdengar ketokan pintu, “assalamu’alaikum” suara dari luar pintu depan. Yang di dalam rumah spontan menjawab “Wa’alaikumsalam”, Aan terlihat bergegas membukakan pintu. Terlihat seorang lelaki separuh baya, dengan wajah lesu seolah capek habis bekerja, berpakaian celan hitam, kemeja kotak-kotakdan topi bunder dikepalanya. Tanpa pikir panjang, Aan terlihat menggapai tangan lelaki itu dan menciumnya seraya berkata “bapak sudah pulang.”
Alim bangkit dari tempat duduknya dan menghentikan aktifitasnya sementara. Dia melangkah menuju bapaknya, menggapai dan mencium tangan bapaknya. Hal yang sama dilakukan oleh Sayuti sembari menyambut kantong kresek tentengan bapak sembari berkata “alhamdulillah bapak wis teko, lage wae ditakok karo arek-arek”.[6]
Perasaan senang dan bahagia selalu menyelimuti perasaan lelaki paruh baya itu saat melihat istri dan kedua putra berkumpul. Apa lagi melihat nuansa yang sesuai dan cocok dengan suasana hatinya, yaitu Aan yang tengah membaca Al-Qur’an, Alim yang terlihat mempersipakan materi buat mengajar di sekolah dan istrinya yang dikelilingi menu-menu makan malam.
Suasana di rumah itu berlanjut menikmati makan malam bersama. Pak Rosyadin sebagai kepala rumah tangga selalu membiasakan anak-anak untuk menjaga kebersamaan dalam rumah tangga. Kadang kala, Rosyadin menceramahi istri dan anaknya, berdalilkan ayat Al-Qur’an demi keharmonisan keluarganya.
Ditengah keasyikan menikmati masakan ibuk Sayuti, tiba-tiba pak Rosyadin berucap “Lim, bagaimana pekerjaanmu di sekolah?”. Alim yang tengah asyik menyendok sayuran itu menjawab “Alhamdulillah pak, lancar dan sesuai keinginan,, insyaAllah tahun ajaran depan, saya ditetapkan sebagai guru kelas VII pak”. Mendengarkan jawaban itu, senang tak terkira terlihat dari wajah buk Sayuti dan Pak Rosyadin. Sembari berkata “Alhamdulillah kalau begitu. Kamu rajin-rajinlah bekerja, nikmatilah apa yang telah kamu raih. Kamu menjadi sarjana bukanlah karena kami yang membiayai, tetapi kepintaran dan kecerdikanmu sendiri yang membiayai kuliahmu melalui beasiswa itu. Jika semuanya dibebankan kepada kami, mungkin kami tidak sanggup menguliahkanmu.”
Mendengarkan ucapan bapaknya itu, sejenak Alim terhenti dari suapannya, “bapak, semuanya tidak terlepas dari sentuhan bapak dan ibu. Tanpa restu dan izin dari bapak dan ibu, belum tentu juga saya bisa seperti sekarang ini.” Ucap Alim dimeja bundar itu. Dia terlihat meyakinkan orang tuanya itu. Percakapan hangat itu terus berlalu hingga waktu makan malam bersama selesai. Alim dan Aan kembali keruangan belajarnya. bapak terlihat bersantai melepas lelah disebelah kedua anaknya itu. Ibu Sayuti kembali disibukkan merapikan meja makannya.
Sembari menunggu ngantuk, bapak terlihat ingin berbicara serius dengan Alim anaknya itu. “Lim, umurmu sekarang sudah 25tahun, Sudah sarjana dan alhamdulillah sudah bekerja. Kapan rencanamu untuk menyempurnakan imanmu? Tidakkah terbesit niat dihatimu nak?” ucap bapak dengan suara pelan dan jelas. Mendengarkan ucapan itu, Alimtermenung sejenak sembari tetap melakukan pekerjaannya mempersiapkan materi. Ibu Sayuti yang telah rampung membersihkan meja makan, jugabergabung dalam percakapan sambil membawa jemuran tetangga yang akan disetrika.
“iya lee, sebenarnya jauh-jauh hari ibu juga berpikir seperti itu” tiba-tiba menyambung perkataan suaminya. Mendengarkan ucapan kedua orang tua, Alim mencoba memberikan penjelasan kepada mereka. “pak, buk. Bukannya Alim tidak berniat, setiap lelaki pasti memiliki hasrat untuk melansungkan hal itu, tapi sepertinya waktu belum berpihak kepada diri Alim” ucap Alim sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran buku panduan ngajar ditangannya.
Mendengarkan keterangan putra keduanya itu, bapak heran dan tidak paham apa yang dimaksudnya. “tidak berpihak bagaimana lee? Kamu tidak menemukan calon ibu dari anak-anakmu nanti?” tanpa pikir panjang ibuk Sayuti juga melantunkan rasa penasarannya, “coba jelaskan kepada kami, apa yang menjadi penghalangmu lee, kalau kakakmu Mursyida sudah hidup bersama suaminya di Surabaya. Bagaimana denganmu?” kata sang ibu sambil menyetrika pakaian.
Merasa didesak, Alim menghentikan aktifitasnya sejenak dan mencoba menjelaskan kepada orang tuanya “pak, buk.  Satu ibu dan satu ayah mampu mengasuh dan memenuhi kehendak  tiga anaknya, tapi tiga anak belum tentu bisa mengasuh dan memenuhi kehendak satu ayah dan satu ibu. Kak Mursyida sejak menikah sudah sibuk dengan keluarganya tanpa ada kabar apapun hingga sekarang”. Mendengarkan penjelasan itu, kerut kening pak Rosyadin semakin menjadi.
“Alim ingin melihat ibu dan bapak bahagia dulu, tidak lagi bekerja seperti sekarang ini, Alim ingin melanjutkan studi Aan hingga ke dunia kampus, Alim juga ingin memperbaiki rumah kita biar kelihatan lebih baik” lanjut Alim sembari melirik Aan yang sedang mengerjakan tugasnya. Mendengarkan keterangan itu, entah kenapa airmata ibuk jatuh setitik demi setitik.
Tiba-tiba bapak menyilah penjelasan Alim, “Lim, jangan kamu ikut-ikutan memikirkan bagaimana rumah, sekolah adikmu, bagaimana kebahagiaan kami. Itu bukan urusan kamu lee. Bahagia itu kesederhanaan nak, jika dengan keadaan seperti ini, bapak dan ibu merasa bahagia berarti tidak masalah. Kecuali, jika bapak dan ibu mengeluh padamu. Semua uang yang kamu dapatkan, simpan dan tabung saja untuk kebutuhanmu. Kami tidak akan meminta uangmu itu lee”kata bapak tampak meyakinkan anaknya itu.
Mendengarkan kata-kata bapaknya itu, perasaan Alim berubah dratis. Suhu badannya lansung mendingin. Dia merasakan aura ketulusan yang mulia dan sinar cahaya kasih sayang yang ikhlas dari sosok orang tua. Betapa besarnya harapan orang tua terhadap dirinya. Hatinya menangis namun tak terungkapkan. Mulutnya serasa terkunci, padahal ingin mengungkapkan berbagai kata dan kalimat. Aan yang berada disebelahnya itu, memandang sayup kepada kakaknya. Sesaat setelah mengucapkan kata itu, si bapak meninggalkan pertemuan kecil itu sembari berkata “ya sudah, bapak mau istirahat” kata bapak sembari bangkit dari tempat duduk menuju kamar tidurnya.
Hingga ibuk Sayuti selesai menyetrika, Alim masih terdiam seribu bahasa. Kerut keningnya semakin menjadi, pandangan matanya yang gelap dan bawaannya yang tak bersemangat. Sang Ibuk juga tidak banyak mengeluarkan kata-kata setelah ucapan suaminya. Hanya memberi pesan “coba direnungkan apa kata-kata bapakmu tadi, siapa tau ada baiknya bagimu dan masa depanmu” kata si ibuk sambil membereskan kerjaannya dan meninggalkan ruangan itu.
Kata-kata orang tua Alim itu sangat menggoncang perasaannya, malam dilaluinya dengan rasa gelisah. Goncangan perasaannya melebihi sebuah granat yang mengoncang-gancingkan bumi. Hingga larut malam, Alim tak mampu bekerja sama dengan kedua mataya menuju mimpi indah. Hatinya dirasuti kegelisahan, kakinya selalu mengajaknya mondar-mandir di kamar, tubuhnya seakan memerintahkan mutar-mutar di kasur dengan kesendiriannya, kadang keluar berdiri dipintu rumah sambil melihat langit yang berbintang, menyaksikan cahaya lampu di jalan.
Alim selalu membayangkan keberhasilan adiknya kelak. Alim selalu berusaha melihat kesuksesan adiknya melebihi apa yang sudah diraihnya. Sebilas teringat wajah kakaknya Mursyida, Alim mulai kecewa karena semenjak menikah tidak pernah memberikan kabar kepada orang tua.
***
Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu. Pak Rosyadin dan Ibu Sayuti tetap melaksanakan aktifitas hariannya. Begitu juga dengan Alim dan Aan, setiap pagi keluar rumah secara bersamaan. Mereka terpisah karena arah sekolah yang berbeda. Kadang kala setiap bertemu, pak Rosyadin kembali mengungkit permasalahan pernikahan Alim, namun Alim belum memberikan jawaban pasti kepada orang tuanya yang memiliki harapan penuh itu.
Saking perhatian dengan putranya, orang tua itu bahkan tidak pernah meminta uang gaji bulanan Alim untuk kebutuhan hidup harian. Saat Alim mencoba memberi, mereka menolak dengan baik-baik. Bapak tidak pernah meminta dan menerima uang belanja begitu juga dengan ibu. Tidak hanya itu, bapak dan ibu juga melarang Aan untuk menerima uang dari Alim.
Jika Alim membawa buah tangan sepulang dari sekolah, maka akan diselidiki dari mana uang pembeli buah tangan tersebut. Jika buah tangan itu dibeli dari uang gaji, maka ibu selalu mengingatkan “jangan dipergunakan uang gajimu untuk hal-hal seperti ini Lim, kalau ada kebutuhan biar ibu dan bapak yang membelinya. Kebutuhanmu dikemudian hari lebih banyak.”
Melihat suasana seperti itu, Alim sangat merasakan ketulusan orang tua yang rela mengorbanakan segalanya demi masa depannya. Itulah hal yang sering membuat Alim termenung bertemankan air mata. Alim selalu berusaha agar orang tuanya tidak mengetahui disetiap tetesan air matanya. Alim hanya berdo’a disetiap sujudnya untuk kebahagiaan dan kemudahan rezeki orang tuanya.
“Ya Allah.. Engkau yang Maha Menentukan, Engkau yang Maha Bijaksana. Sebaik-baik keputusan adalah keputusan Engkau. Tidak ada anak yang ingin melihat orang tuanya susah, tapi hamba tidak punya cela untuk menyisipkan sedikit bantuan bagi mereka. Hati mereka begitu mulia, hamba tidak sanggup mengharungi kenyataan seperti ini, berikan hamba bimbinganMu, apa yang seharusnya hamba lakukan.”
“Ya Allah.. Engkau yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, tidak ada kekuatan dan kekuasaan di atas kekuatan dan kekuasaan Engkau. Memohon hamba kepada Engkau, berikanlah mereka kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang Engkau tetapkan ini. Kami yakin, semua berlaku atas izin Engkau, tanpa kekuasaan dan kekuatan yang Engkau anugrahkan, mereka tidak akan sanggup untuk mencari rizki di jalanMu.”
“Ya Allah.. Engkau yang Maha Menjauhkan segala yang dekat, Engkau yang berkuasa mendekatkan segala yang berkejauhan. Engkau yang menyatukan segala yang terpisah, Engkau yang mempertemukan rasa yang tak saling menyapa, Engkau yang memisahkan segala yang menyatu. Jika menikah adalah salah satu jalan yang harus hamba tempuh untuk membuat mereka senang dan bahagia, maka pertemukanlah hamba dengan orang yang telah Engkau tetapkan. Jika kami belum saling mengetahui, buatlah hamba mengenalnya, dan dia mengenalku. Berkati rasa yang kami miliki.”
“Aminn,, ya Rabbal’alamiin.”
Begitulah ratapan Alim setiap menengadahkan tangan diakhir shalatnya. Air mata bercucuran membasahi pipih hingga berjatuhan menetesi sejadah. Di sekolah, Alim terlihat bermata sembab. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari guru-guru lainnya.
Suatu hari, ibu Sayuti jatuh sakit karena terlalu lelah menjalan pekerjaan. Pak Rosyadin sangat panik mencari dana guna membiayai pengobatan istrinya. Saat kondisi itu Alim berkata “pak, pakai uang simpanan Alim saja pak, insyaAllah cukup untuk membeli obat ibu” kata Alim tanpa sepengetahuan ibuknya. Pak Rosyadin tetap tidak ingin menggunakan uang tersebut, “nak, uang itu disimpan saja untuk kebutuhan masa depanmu. Untuk persiapan masa depanmu nanti. Kalau untuk membeli obat ini bapak bisa mengusahakan melalui jalan lain.”Kata pak Rosyadin sembari memegang bahu putranya.
Hati Alim terenyuh mendengarkan ucapan bapaknya itu, Alim tidak bisa berkata apapun. Alim hanya mampu mengalirkan air mata, seperti anak kecil cengeng yang tak terpenuhi kehendaknya. Alim tidak pernah membantah keinginan orang tuanya, hal itulah yang diajarkan orang tunya hingga terbentuklah kepribadian patuh dan menghargai dalam dirinya.
Beberapa waktu kemudian, Alim diutus pihak sekolah menghadiri acara lokakarya guru mata pelajaran yang berlansung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat.Sebagai guru di sekolah Muhammadiyah sekaligus kader Muhammadiyah Jawa Timur, dia merasa itu adalah sebuah penghargaan tersendiri baginya. Alim memutuskanakan berangkat dengan beberapa orang guru lainnya.
Malam hari sebelum keberangkatan, Alim berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dengan harapan mendapat izin, Alim mendekati ibunya yang masih sakit. Alim berkata apa adanya. Pak Rosyadin juga mendengarkan izin tersebut secara lansung. “buk, Saya diutus pihak sekolah menghadiri acara lokakarya guru mata pelajaran di Jakarta. Jika ibuk mengizinkan Alim, maka Alim akan putuskan akan berangkat, tepi jika ibuk memberikan lampu merah, maka Alim akan menolak hal ini kepada pihak sekolah agar dicarikan penggantinya” kata Alim yang duduk disebelah ibuk Sayuti.
Menyadari bahwa itu adalah tugas anaknya, ibuk Sayuti terlihat tidak bisa menghalanginya. Dengan nada pelan, ibuk Sayuti berkata “lampu merah ibu tidak akan pernah untuk kemajuan aktifitasmu nak, selagi ibu mampu ibu akan menghidupkan lampu hijau untukmu agar kamu menggapai apa yang kau inginkan. mangkat karo sopo lee?”[7], seperti khawatir akan keselamatan Alim. “Terima kasih buk, air susu jadi bukti, air mata jadi saksi, disetiap langkah kakiku Alim ini ada iringan do’a ibu. Alim bersama dua orang guru lainnya buk” jawab Alim yang mencoba menghilangkan keraguan ibuknya atas keselamatannya.
“Hati-hati diperjalanan Lim, jaga diri baik-baik. Kamu harus laksanakan tugas itu dengan baik dan penuh rasa amanah” tiba-tiba bapaknya memberikan nasehat. “mas, pergi berapa hari?” tanya Aan dengan penuh rasa ingin tau. Mendengarkan pertanyaan itu, Alim mendekati Aan yang berada di meja makan sambil berkata “Cuma tiga hari saja, nanti kamu jaga ibu di rumah ya, saat bapak berangkat bekerja kamu di rumah dulu saja. Kalau kesehatan ibu sudah pulih sempurna, baru kamu masuk sekolah lagi yaa.” Pesan Alim kepada adiknya yang sedang membuat minuman hanget buat ibuknya. “jangan lupa oleh-oleh ya mas..!” permintaan Aan yang belum pernah menempuh kota metropolitan itu. “InsyaAllah, semoga saja” tanggapan Alim.
Malam semakin larut. Alim mulai sibuk mengemaskan pakaiannya. Bapak, ibu dan Aan tertidur pules. Sambil mengemaskan barang-barangnya, Alim bergumam dihatinya “Ya Allah.. berikan kesehatan yang sempurna kepada keluargaku ini. Mudahkanlah segala urusan kami, dimanapun kami berada, dan janganlah Engkau berikan kesulitan. Tegur kami jika melakukan kesalahan. Ya Allah.. jika perjalanan ini bernilai kebaikan disisiMu, maka berikanlah kelancaran dan bimbinganMu, jika bernilai keburukan dan mendatangkan murka Engkau, maka sadarkan hamba secepatnya.”
Keesokkan harinya dipagi yang indah berselimutkan udara dingin, dengan tas disandangnyadan memakai sepatu pentofel mengkilat hitam serta pakaian rapi, Alim terlihat siap melakukan perjalanan ke Jakarta. Setelah pamitan dengan orang tua dan adiknya, Alim berjalan menuju sekolah. Dari sekolah, bersama rombongan Alim menuju bandara Juanda Surabaya. Dari bandara Surabaya, rombongan terbang menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Tepat pukul 10.30 Alim dan rombongan telah menginjakkan kakinya di bandara Ibukota. Alim memasuki lokasi acara tepat saat azan Zuhur berkumandang pada waktu setempat. Mulai dari kedatangan, hingga pergelaran acara pembukaan rombongan terlihat bersantai ria di ruangan yang telah ditetapkan. Alim menggunakan waktu luang tersebut untuk menikmati suasana kota Jakarta di sore hari.
Saat Alim dan teman-temannya jalan-jalan sore disekitar Menteng Jakarta Pusat, tiba-tiba Alim berpapasan dengan seorang pemuda yang diperkirakan seumurannya dengannya. Ketika Alim melihat pemuda itu, ekspresinya seakan mengenal pemuda itu. Alim mencoba mengingat kembali masa lalunya terkait dengan pemuda itu. Saat asyiknya melangkahkan kaki, secara tiba-tiba Alim yang memakai kemeja batik merah ala Gresik itu menghentikan langkahnya dan melihat kebelakang sambil bergumam di hatinya “rasa-rasanya saya kenal dengan pemuda itu, tapi siapa yah?”
Tanpa diduga, hal yang sama juga dirasakan oleh pemuda yang menggunakan kemeja hitam bergaris-garis biru itu. Dalam sesaat dia juga berpaling dan melihat kearah Alim. Di akhir ingatannya barulah, Alim dan pemuda sama-sama ingat akan mereka. “Alim kan?” Tanya pemuda itu dengan ekpresi mengingat dan menebak. Alim yang masih tidak percaya akan kejadian itu spontan juga bertanya “sampean Isma kan?”
Alim dan Isma foto bareng saat di Pondok Shabran
Isma adalah salah satu sahabat akrab Alim saat nyantri di Pondok Pesantren Muhammadiyah Shabran Jawa Tengah beberapa tahun silam. Sembari nyantri di pondok tersebut, mahasantri menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Semenjak menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam, Isma berdarah Minangkabau itu melanjutkan studinya ke pascasarjana disalah satu Universitas Islam di Bogor. Sedangkan Alim menjalankan pengabdiannya di Daerah Muhammadiyah Gresik.
Saat itu, terlihat suasana pertemuan dua sahabat akrab yang lama terpisah. Alim dan Isma saling berpelukan. Pertemuan itu dibumbui dengan rasa tawa dan haru dari keduanya. “MasyaAllah mas Isma, sampean kelihatan sehat sekali, makin gemuk dan putih. Setelah sekian lama kita terpisah oleh jarak dan waktu, berbagai gunung dan lika-liku jalan menjadi pemisah antara kita. Tanpa diduga dan diniatkan, moment yang ditunggu-tunggu selama ini dapat terwujud lagi” Ucap Alim dengan ciri khas Gresiknya sambil memegang pangkal lengan sahabatnya itu. Isma yang juga tidak menyangka akan pertemuan juga berucap “tidak ada niat untuk memutuskan silaturahmi, tiap hari saya selalu merindui waktu-waktu kita bersama di asrama dulu, kita berdiskusi, lomba membaca dan memahami teks, berbagi kesetiaan dan mengukir kenangan persahabatan, serta jalan-jalan.”
Di tengah tawa ceria kedua persahabatan itu, Alimpun memperkenalkan rekan-rekannya kepada Isma, begitu juga sebaliknya. “ada acara apa di Jakarta?” Isma mencari tau penyebab pertemuannya dengan teman sekamarnya semasa nyantri itu. “kami mengikuti acara lokakarya Guru di gedung itu” jawab Alim sambil menunjuk ke gedung Menteng yang menjulang tinggi ke langit.
Isma dan rekannya terlihat sibuk di kantornya (Majlis Tabligh)
“oh,, saya ngantor disitu, nanti kita bisa ngobrol panjang” jawab Isma yang ternyata bekerja digedung tempat lokasi acara lokakarya itu. “okelah, kalau begitu saya kesana dulu yah” kata Alim sambil menunjuk kearah Barat bersama kedua temannya. “oke, sampai ketemu nanti setelah sholat Maghrib yah,” tanggapan Isma sambil melambaikan tangannya. Akhirnya, kedua sahabat itu terpisah sejenak.
***
Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat, terdiri dari empat lantai. Di gedung berwarna coklat juga terdapat berbagai kantor majelis dan organisasi otonom muhammadiyah. Sebagai center pergerakan organisasi Muhammadiyah, gedung itu tidak pernah terlihat sepi. Hampir setiap hari dipenuhi oleh para kader muhammadiyah baik yang datang dari wilayah, daerah dan cabang atau dari pengurus tingkat pusat itu sendiri.
Gedung Dakwah Muhammadiyah dilihat dari depan
Majlis Pendidikan mengadakan Lokakarya guru tingkat nasional. Alim sebagai kader muhammadiyah mewakili sekolahnya. Sedangkan Isma adalah salah satu staf di Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus. Sesuai keputusan panitia pelaksana, ruang nginap Alim ditempatkan di ruang Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pemuda Muhammadiyah tepatnya di lantai empat. Majlis Tabligh sebagai kantor hariannya Isma, terletak di lantai tiga. Tidak jarang juga kadang Isma sering menginap di kantornya itu.
Setelah sholat isya secara berjama’ah, peserta lokakarya yang berjumlah kurang lebih 25 orang itu tampak mengikuti acara pembukaan diruangan aula lantai dasar. Saat pembukaan berlansung, Isma sedang asyik mengerjakan tugas di ruangannya. Pembukaan yang berlansung setengah jam itu berjalan lancar. Acara dibuka oleh ketua majlis pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu sendiri.
“Gak ikut acara pembukaan lokakarya di lantai dasar Is?” tanya Ridho salah satu teman kerja Isma di Majelis Tabligh. Isma yang terlihat sibuk dan banyak pekerjaan itu menjawab “Gak, saya ada deadline nih”. Mendengarkan jawaban itu, Ridho memberikan saran terkait tugas Isma “siapa tau kamu bisa meliput dan dijadikan sajian utama majalah kita edisi bulan depan”. Isma hanya tertawa kecil yang berucap “hehe, kan sudah ada Firman yang ngliput”. Firman adalah rekan kerjanya Isma dan Ridho.
Tidak lama saatnya, acara pembukaan itu berakhir. Semua peserta menuju ruang nginapnya masing-masing. Berbeda dengan Alim, dia terlihat menuju ruang majlis tabligh menemui Isma. “Assalamu’alaikum” ucap Alim dari luar, “Wa’alaikumsalam” jawab Ridho dan Isma secara bersamaan. Karena tidak dikunci dan telah dipersilahkan masuk, Alim masuk daln lansung menyalami dua pemuda yang sedang bertugas itu.
Isma berfoto di depan gedung pascasarjana tempat studinya
Isma dengan hati senang menyambut kedatangan Alim sesuai janji mereka sebelumnya. Ismapun memperkenal Alim dengan Ridho. “Alhamdulillah datang juga, saya kira lupa atau sudah istirahat. Ohya, kenalkan ini Ridho teman kerja saya disini,” ucap Isma yang berdampingan dengan Ridho dan Alim. Alimpun sekonyong-konyongnya mengulurkan tangan dan berbagi senyuman dengan Ridho. Begitu juga sebaliknya.
Ridho terlihat kembali ke meja dan komputernya melanjutkan tugasnya. Sedangkan Isma mengajak Alim berbincang dan bercengkrama ke ruang rapat. Ruangan itulah menjadi saksi bisu pertemuan dua sahabat itu. Mereka saling berbagi berbagai cerita, baik cerita pribadi, keadaan keluarga, studi dan kesibukannya saat ini. Dengan semangat Isma menceritakan semua pengalamannya begitu juga dengan Alim. Itulah yang menjadi kebiasaan mereka sewaktu di pesantren.
“Sekian lama tidak berkumpul bersama, kita menelusuri jalur kita sendiri-sendiri. Biasanya di asrama, dua jam saja tidak berjumpa kamu banyak bercerita tentang apa yang kamu alami selama dua jam itu. Sekarang sudah bertahun-tahun, tentu lebih banyak hal-hal yang akan kamu ceritakan” Isma terlihat memulai percakapan di ruang rapat itu. Alim yang juga ingin melakukan itu juga menanggapi dengan baik “mas, saya tidak dapat membayangkan jika beberapa tahun terakhir ini kita bersama dalam mengharungi waktu. Tentu sampean juga merasakan apa yang ku rasakan, semua tindak-tandukku selalu mengingatkanku akan kebersamaan kita di asrama dulu” ucap Alim sambil tersenyum kecil.
“Itulah hidup Lim, semuanya bukan atas kendali kita, kita hanya bisa menjalankan dengan diiringi do’a agar semua yang terjadi sesuai dengan kehendak hati. Yang pastinya, kita tidak menyalahkan berbedanya aktifitas dan lokasi domisili kita. Apapun aktifitas kita, semoga selalu diberkahi dan di rahmatiNya, sehingga jalan menuju sukses itupun semakin terbuka lebar bagi kita” ucap Isma yang umurnya setahun lebih tua dari Alim.
“Iya mas, jika di analogi, maka akan ditemukan sebuah permisalan” ucap Alim yang kebiasaannya dengan suara rendah. “Analogi? Sekarang sudah pintar main analogi ya?” jawab Isma menggoda Alim yang sedang serius itu. “percuma kita berharap bisa berjalan di atas awan, meskipun terlihat indah tapi kita tidak akan menemukan pijakan” Alim berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya ibarat ustadz yang sedang ceramah di mimbar.
Berbagai hal menjadi topik pembicaraan dua persahabatan itu, dengan rasa penasaran Isma melanjutkan pertanyaannya “apa kesibukanmu semenjak menyandang gelar sarjana pendidikan Islam?” dengan sebilas sumbringah bibirnya Alim menanggapi “saya sekarang ngajar di SMP Muhammadiyah 12 Gresik. SMP tempat saya menimba ilmu dahulu kala mas”. Isma terlihat senang dan bangga memiliki sahabat seperti Alim, mendengarkan jawaban itu, dengan bangga Isma berucap “bagus Lim, sebagai kader Muhammadiyah kita memang harus mengabdi ke Muhammadiyah. Itulah yang dipesankan oleh KH. Ahmad Dahlan: jadilah kalian insinyur, dokter, profesor, teknisi, dan ilmu apapun yang kalian dalami, setelah itu kembalilah ke Muhammadiyah”
Mendengarkan perkataan itu, Alim melanjutkan “Iya mas, begitulah pesan pendiri Organisasi Muhammadiyah ini: Muhammadiyah sekarang akan berbeda dengan Muhammadiyah akan datang, oleh karena itu jangan berhenti untuk menuntut ilmu agar kita sebagai kader Muhammadiyah mampu melansungkan perjuangan dakwah Muammadiyah”.
“bagaimana kabar keluarga di Gresik? Saya harap semoga semua baik-baik saja” Isma mulai bertanya sambil mengenang moment dia bersilaturahmi ke Gresik kediaman Alim suatu waktu silam. Alim dan Isma yang selalu saling terbuka dalam tiap permasalahan, Alim terlihat berwajah sedikit murung ketika ditanya perkara orang tuanya. Melihat ekpresi Alim yang berbeda, Isma merasa ada sesuatu yang tidak beres di wajah sahabat yang baru saja tertawa bersama itu.
“ada apa Lim? Ibu bapak dirumah baik-baik saja kan?” telusuri Isma. “Alhamdulillah semuanya baik-baik saja mas, hanya saja...” jawab Alim dengan suara sedikit tersendak. “hanya saja kenapa?” Isma seperti tidak sabar menunggu tuturan kata Alim. Mendengarkan pertanyaan seperti itu, Alim mengungkap semua apa yang dirasakannya.
“Kenapa ya mas, ibu dan bapak saya tidak mau menerima uang pemberian dari saya, tidak mau menerima sesuatu yang berikan. Setiap gajian awal bulan, saya berikan kepada mereka tapi mereka tidak mau menerima. Saya belikan sesuatu, buah, pakaian, makanan atau apapun, mereka menyelidiki dan melarang belanja lagi” Alim mulai curhat dengan mata memerah bak merahnya buah delima. Seakan ingin meneteskan dan mencucurkan air mata. “saya salah apa ya mas?” lanjutnya.
Isma terlihat kaget mendengarkan cerita temannya itu, pemuda yang selalu berpikir solutif itu mencoba menyelidiki permasalahan itu. “kenapa bisa orang tuamu seperti itu? Kamu sudah tanya baik-baik belum?” tanya Isma. Sambil menghela nafas, Alim menceritakan lebih detail kepada kakak kelasnya di pesantren waktu silam itu, “sudah mas, setiap saya berikan uang mereka berkata: simpan saja uangmu nak, tidak usah dikeluarkan dan digunakan selagi ibu dan bapak masih kuat untuk bekerja dan menghasilkan uang untuk kebutuhan kita” kenang Alim.
Isma yang mulai paham dengan keadaan dan maksud orang tua Alim, mencoba memberikan pengertian “Lim, banyak kok orang tua yang seperti itu. Kamu tidak usah bersedih dan berpemikiran negatif, saya rasa itulah reaksi orang tuamu untuk melihatmu bahagia dikemudian hari. Dan itulah salah satu bentuk tanggung jawabnya kepadamu sebagai anaknya yang belum menikah. Jika kamu sudah berumah tangga, maka mustahil orang tua akan seperti itu” Isma seakan menceramahi Alim yang duduk dihadapannya itu.
“Sehari sebelum saya berangkat kesini ibu sedang sakit. Bapak menolak uang saya untuk membeli obat ibu, padahal bapak sedang tidak memegang uang. Bapak lebih memilihi meminjam keteman kerjanya dari pada memakai uang dari saya” lanjut Alim mengenang masanya beberapa waktu yang silam. “itu wajar Lim, sekarang kamu turutin saja semua keinginan orang tuamu” pesan Isma sambil mengelus pundak sahabatnya itu.
“kalau boleh saya menebak, pasti orang tuamu telah menyuruhmu untuk segera menikah,” Isma menebak perasaan Alim. Mendengarkan pernyataan itu, Alim yang memang disuruh menikah itu sedikit terkejut dan menatap wajah Isma “iya mas, kok mas Isma bisa mengerti dengan keadaan itu?” jawab Alim dengan ekpresi terkejut. “ya sudah, sekarang kamu segera menikah saja Lim” tiba-tiba Isma memberikan saran yang serupa dengan sarang orang tua Alim.
Mendengarkan pesan Isma itu, Alim terlihat berpikir dan merenung. Saat Alim terdiam dalam renungannya, tiba-tiba Isma mengajak Alim berpikir analogi “tadi kamu ajak saya berpikir analogi, sekarang saya juga mengajak kamu bepikir analogi” ucap Isma sambil tersenyum kecil. Mendengar itu, Alim menanggapi dengan rasa heran dan ingin tau. “apa mas?” tanya Alim.
“Umpamakan kamu sedang tenggelam dalam sebuah waduk, dari luar waduk ada ibu dan istri melambaikan tangannya untuk menolongmu. Mana tangan yang akan kamu raih duluan?” mendengarkan pertanyaan itu, Alim terlihat bingung dan mencoba menjawab “gak tau mas” kata Alim dengan santai.
“Umpamakan lagi ibu dan istrimu tenggelam di waduk, dan mereka meminta bantuan padamu dengan menjulurkan tangannya. Sedangkan kamu berada di luar waduk, tangan siapa yang akan kamu tarik terlebih dahulu?”. Pertanyaan itu membuat Alim makin bingung. “ibu toh mas” pungkas Alim dengan wajah yakin.
Isma yang hanya senyum-senyum kecil mencoba menerangkan. “jadi begini Lim, kalau kamu yang tenggelam, maka kamu harus raih tangan ibukmu. Kenapa? karena kamu adalah tanggung jawab ibukmu. Tapi jika ibu dan istrimu yang tenggelam, maka kamu harus menolong istrimu terlebih dulu, setelah itu baru istrimu. Kenapa? karena istri adalah tanggung jawabmu dunia dan akhirat”.
Alim terlihat protes “loh, berarti kita jadi anak durhaka donk?”. Isma kembali menanggapi maksud Alim, “kita tidak menjadi anak durhaka, karena memang istri adalah tanggung jawabmu, setelah itu bantulah orang tuamu”. Alim yang mulai paham dengan analogi itu mengangguk-angguk “Oh ya yah” ucapnya sambil menghela nafas. Perkataan dari Isma itu, membuat Alim merasa tenang akan permasalahan yang membuat dia gelisah.
Malam semakin larut, tak terasa dua jam sudah bercengkrama. Alim merasa sangat senang, seolah mendapatkan pecerahan dari segala permasalahannya. Hal yang sama juga dirasakan Isma, waktu yang dinanti selama ini dapat terwujud tanpa rencana dan agenda. Mereka sama-sama menyadari itulah kekuasaan Allah.
Diakhir percakapan itu, tiba-tiba Isma bertanya “Lim, acara lokakarya tiga hari kedepan ya?”. Dengan rasa penasaran Alim menjawab “iya mas, kenapa?”. Mendengarkan jawaban itu, Isma mengajak Alim berfoto untuk kenang-kenangan “sebelum tidur kita foto bareng yuk, biar menjadi kenang-kenangan dan saksi bisu pertemuan ini. Karena tiga hari kedepan saya juga punya tugas di luar kota” permintaan itupun diindahkan Alim.
Alim (berdiri) dan Isma (duduk) saat foto di Menteng Jakarta
Dengan bantuan Ridho, satu saksi bisu telah terbentuk. Perpisahan kembali menghampiri mereka berdua. Pertemuan singkat itu sangat membuahkan sesuatu yang sangat berharga bagi keduanya. Alim kembali keruangannya sedangkan Isma melanjutkan aktifitasnya hingga ngantuk menghampiri matanya.
Tiga hari kemudian, “Is, ada titipan surat buatmu” kata Ridho. Dengan ekpresi penasaran “titipan surat dari siapa?” tanya Alim. “baca aja deh” jawab Ridho sambil membuka komputer.
Ternyata itu adalah surat kecil dari Alim, dia menuliskan:
“Mas, kalau kita tidak bertemu lagi, melalui surat kecil ini saya pamit pulang ke Gresik ya, terima kasih atas semuanya. Sungguh waktu yang sangat berharga saat berjumpa denganmu. Berharap akan terulang kembali pertemuan ini.Telusurilah jalanmu untuk menemui masa depanmu, begitu juga dengan saya, akan menelusuri jalan saya seterusnya. Kita harus menjadi orang yang hebat.”
By: Alim Kamil
Setelah membaca surat itu, Isma bergumam dalam hatinya “semoga kau menemukan kesuksesanmu sahabatku”.
Waktu terus berlalu, Alim dan Isma menjalankan aktifitasnya masing-masing. Pak Rosyadin dan Ibuk Sayuti merasa senang karena Alim pulang dengan selamat. Aan juga mendapatkan oleh-oleh pesanannya.



[1] cemberut
[2] Lim, sudah azan Maghrib nak, ayo berwudhu, sholat berjamaah dirumah saja ya
[3] Ya buk, saya mau berwudhu dulu
[4] Buk bapak kok belum pulang, kemana ya?
[5] Kata-kata “lee” itu digunakan sapaan untuk anak laki-laki di Jawa
[6] Alhamdulillah bapak sudah pulang. Baru saja ditanyain anak-anak
[7] Berangkat sama siapa nak?

Minggu, 16 Februari 2014

“Karena Hajat Sang Ayah” (Sebuah Autobiografi Singkat)



 Sebuah Autobiografi Singkat


Ismail di Masjid Al-Hijr II Bogor
ISMAIL SYAKBAN, lahir di Sulit Air 14 Maret 1990. Berasal dari keluarga kampung yang awam disudut desa Linawan kenagarian Sulit Air, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok Sumatra Barat. Dia adalah putra ke-9 dari pasangan Saharruddin (Alm) dengan Maimunnah. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 14 Ganting Dodok Sulit Air lulusan tahun 2003. Kemudian menlanjutkan ke MTs Muhammadiyah Balik Parit Sulit Air lulusan tahun 2005. Setelah itu, melanjutkan ke MA Muhammadiyah Sawitan Sulit Air sambil nyantri di Madrasah Diniyah Ulya Nurul Falah Sulit Air lulusan tahun 2008. Tidak cukup sampai situ, Ismail berkesempatan melanjutkan ke Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (S1) sambil nyantri di Pondok Pesantren Kader Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran Solo Jawa Tengah lulusan tahun 2012. Merasa tak cukup dengan ilmu yang didapatkan Ismail kembali melanjutkan studinya ke Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam program Magister Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor (S2) dan kembali nyantri di Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albaab UIKA Bogor lulusan tahun 2014.
Sejak kecil Ismail biasa dilatih hidup mandiri oleh ibunya. Ismail memiliki semangat belajar yang tinggi, dia menyadari sebenarnya kondisi keluarga tidak mengizinkan untuk melanjutkan pendidikan, namun dengan modal semangat dan optimis dia bertekad untuk selalu melanjutkan pendidikan tanpa ingin memberatkan orang tua.
Ismail Saat diberi amanah menjadi Imam disalah satu Masjid di Bogor Jawa Barat.


Sosok yang hobi nyanyi ini harus rela kehilangan ayahnya saat dia masih berumur 12 tahun. Sang ayah berpulang ke Rahmatullah karena sakit. Sang ibu, hanyalah seorang yang awam namun tidak luput untuk memberikan motivasi belajar yang tinggi kepada anak-anaknya. Selama menempuh pendidikan Ismail dan sepuluh saudaranya diberi uang jajan dari hasil jual kayu bakar, jualan sayuran, dan hasil gaji cocok tanam di sawah orang lain. Seribu demi seribu yang dikumpulkan demi membelanjai dan membiayai pendidikan anaknya. Bekerja sebatang kara tanpa rasa keluh kesah, tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. “nak,, jangan mentang-mentang karena kita miskin, terpencil, itu mematahkan semangatmu untuk belajar, kamu harus bisa ‘mambangkik batang tarandam’.”
Di Sekolah Dasar, Ismail termasuk siswa yang berprestasi, dia mengikuti berbagai perlombaan mewakili sekolah sehingga putra yang suka mendengarkan musik ini memperoleh beasiswa berupa seragam sekolah merah-putih, hitam-putih dan seragam pramuka. Hal ini yang dapat mengobati rasa capeknya sang ibu yang membanting tulang karena melihat putranya berprestasi dan memperoleh beasiswa. “prestasi dan beasiswamu ini, dapat menghapus cucuran keringat ibu nak,,”
Saat menempuh studi di MTs (Madrasah Tsanawiyah), dikelas 1 dengan tidak ada rasa gengsi Ismail jualan peyek kacang pada teman-teman sekelasnya. Dikelas 2 hingga lulus, sosok yang mudah senyum ini bekerja sebagai Cleaning Service disekolah tersebut, dengan fasilitas gaji bulanan serta gratis uang SPP bulanan dan pembangunan. Meskipun sedikit, namun hal ini sangat menyenangkan hatinya yang merasa ikut serta meringankan beban orang tuanya. “nak,, tidak seharusnya ibu membiarkanmu bekerja sambil belajar dengan umurmu sekarang ini,, maafkan ibu nak,,”
Saat mendaftar di MA (Madrasah Aliyah), Ismail sempat putus asa karena sang ibu sama sekali tidak punya biaya untuk menyekolahkannya. Ibunya memberikan uang dari hasil jualan daun ubi digunakan untuk pendaftaran. Dengan iringan air mata ibunya berkata: “nak, pakailah uang ini untuk pendaftaran sekolahmu, jangan hiraukan apa-apa dulu, sekarang pergilah sekolah dan daftarkan namamu di sekolah yang kamu suka”.
Ismail Bersama Azaki Khoiruddin di Ruangan MTDK PP Muhammadiyah 2014
Jarak sekolah MA lebih jauh dari MTs sebelumnya, karena tiap hari jalan kaki pulang pergi sekolah dan menghabiskan waktu 60menit berjalan kaki dengan jalan yang tanjakan dan tidak tega melihat sang ibu membanting tulang, Ismail berkata pada ibunya: “bu, saya mau minta izin, tinggal di Kota saya kerja di jadi Garim Masjid. Itung-itung meringankan beban ibu”. Mendengarkan permintaan anaknya, sang ibu yang tidak pernah membatasi kemauan anaknya itu hanya mengikhlaskan dan mendo’akan selalu anaknya, “nak, Almarhum ayahmu pernah berpesan, ibu disuruh mendidikmu agar menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat dan agama,,”
Selama di MA, sembari hidup di Masjid sosok yang terkenal dengan anak yang patuh ini terus menggali dan mengembangkan prestasinya, hingga akhirnya dia terpilih sebagai Ketua Umum IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) selama satu setengah periode. Disela-sela waktunya mengurusi Masjid dan organisasinya, dia juga menyantrikan dirinya di Madrasah Diniyah Ulya Nurul Falah. Dia juga mendapatkan beasiswa prestasi dan beasiswa yatim. Dari berbagai beasiswa itulah dia membiayai pendidikannya sendiri.
Karena aktif di IPM, Ismail kembali mendapat beasiswa untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta sembari di asramakan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran Jawa Tengah atas rekomendasi dari kepala sekolahnya. Hal ini membuat air mata sang ibu “jatuah kadalam”. Namun rasa bangga yang mendalam terbesit dalam hatinya. “nak, ibu tidak bisa menyekolahkanmu, apalagi menguliahkanmu, hanya kepintaranmu yang menguliahkanmu.”
Ismail bersama Azaki di PHNS Solo Jateng 2011
Saat pertama kali berangkat ke tanah Jawa sang ibu membekali dengan segelas beras, dua biji cabe dan dua biji bawang merah sebagai rasa tanggung jawab sebagai orang tua. Namun itu adalah motivasi yang tiada ada duanya bagi Ismail. Dengan tetesan air mata, dia harus ikhlas meninggalkan ibu, keluarga dan kampungnya selama dia studi di tanah Jawa.
Meskipun beasiswa, Ismail tidak mau lengah, dia tetap mencari kerja disela-sela waktu kuliahnya sebagai penambah uang sakunya. dia mengrajini berbagai profesi dan pekerjaan. Selama bergelut dengan dunia kampus, dia tidak hanya kuliah, namun aktif diberbagai elemen organisasi mahasiswa di kampus seperti DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Islamika, KM3 (Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah).
Meskipun sebagai aktivis yang super sibuk, namun Ismail tetap menjadikan kuliah sebagai prioritasnya, hasilnya dia mampu menyelesaikan studi Sarjananya dalam waktu 3,5 tahun (7 semester) dengan judul skripsinya “Hubungan Pendidikan Baitul Arqom dengan Perilaku Berpakaian Islami bagi Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun Akademik 2011/2012”.
Ismail dengan tiga orang teman sekelas, saat di pascasarjana UIKA Bogor
Merasa belum cukup dengan gelar sarjana, sosok yang biasa dipanggil Rang Bujang ini kembali mencari beasiswa Pascasarjana, walhasil dia diterima di konsentrasi Pendidikan dan Pemikiran Islam Program Magister Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor sembari kembali menyantrikan diri Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albaab Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Di Pondok Ulil Albab inilah, Ismail bertemu dengan sosok-sosok yang haus akan ilmu pengetahuan. Dari berbagai pelosok dan disiplin ilmu bercampur jadi satu atap, menjadi kebanggaan tersendiri baginya bisa menjadi salah satu santri pondok Ulil Albab dan mahasiswa pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor. Berharap dapat merealisasikan hajat almarhum ayahnya. Dia menyelesaikan studi pascasarjananya pada tahun 2014
Inilah hajat dari sang ayah, hingga kini Ismail selalu berusaha memfungsikan dirinya untuk masyarakat dan agama. Penulis bisa dihubungi ke Hp (0852 2972 8893), email (ismail.syakban@gmail.com), dan akun facebook (Ismail Rang Bujang Al-Minangkabawy)[IsRb]